• Minggu terakhir ini dunia persilatan sempat ramai dengan keberadaan Warung Muamalah di Depok. Gimana gak, transaksinya ceritanya pakai dinar-dirham. Konon biar lebih memudahkan dan syar’i gitu. Walaupun belakangan pihak pedagang warung ini, tentu, mengeluarkan jurus-jurus silatnya : Silat lidah !
    “Gak kok ini pakai rupiah…Ini pake emas dan perak dan barter, biar lebih  flexible aja“

    Tapi pokoknya, empunya pemilik ide warung ini kemudian diboyong untuk silaturahim ke kantor polisi.

    Saya kira perkara selesai, dan masyarakat +62 tuh sudah cukup cerdas untuk memahami penjelasan Bank Indonesia, pihak kepolisian, dan sebagainya. Rupanya GAK! Malah rame banget. Banyak yang malah sok tahu, dan bilang pemerintah bodoh lah, tidak paham ekonomi Syariah lah, dan yang lebih parah ada yang bilang negeri ini semakin antipati pada agama tertentu. Ini bodoh, kejam, sekaligus mengerikan karena orang-orang yang beropini seperti itu lebih nyaring dibandingkan para ahli yang benar-benar ahli. Mana galak-galak lagi. Tidak memiliki kemawasan diri untuk menerima ketika dinasehati dan diperbaiki.
    Itu adalah momen ketika saya sadar kalau tong kosong nyaring bunyinya itu benar, dan bunyinya senyaring speaker dangdut pantura!

    Saya pikir komen-komen seperti itu hanya akan muncul pada netizen yang mungkin tidak menempuh Pendidikan tinggi. RUPANYA TIDAK SODARA-SODARA!

    Namun yang mengejutkan, rupanya ada aja, ada…oknum orang-orang yang berpendidikan tinggi bahkan oknum pendidik (jadi bukan semua ya, yang beneran pinter juga banyak) yang mengeluarkan opini menyudutkan pihak pemerintah. Boleh sih mengkritik pemerintah kalau memang berisi, padahal kalau kita amati kualitas opininya, saya rasa yaaah paling baru belajar ekonomi dari kulit arinya aja. Yang mengagumkan adalah yang model begitu bisa begitu PD dan sok tahu menjudge pemerintah, khususnya Bank Indonesia, tidak paham ekonomi Syariah. Untuk yang model begitu, ANTUM BAIKNYA YANG BERMUHASABAH!  Sebaiknya antum-antum, publish dulu di jurnal Q1-Q2 INTERNASIONAL, baru deh setelah itu layak beropini. Kalau belum, diam lebih baik daripada mengatakan hal blunder. Gila ya, rupanya memang Dunning-Kruger effect itu nyata. Kalian tau Dunning-Kruger gak? Sebuah hipotesis yang menyatakan “…people with low ability at a task overestimate their ability”

    Sebelum kita kupas masalah warung dinar-dirham, saya meluruskan dulu ya…. ekonomi Syariah itu tidak mudah. Memang asal baca dari google, terus langsung expert gitu? NO! Sebagai ekonom dan peneliti, saya merasa ekonomi Syariah itu, SEHARUSNYA, lebih rumit karena kita harus paham terlebih dahulu ekonomi konvensional, baru setelah itu belajar ekonomi Syariah. Dan konsep ekonomi konvensional saja sudah sangat rumit. Lha ini dobel belajarnya. Antum pikir belajar eksyar cuman bismillah, zakat, infak, shadaqah, alhamdulillah? gitu? Gak lah… gak begitu. Kalau pemahaman kalian cuman mentok di situ, maka ada baiknya coba kuliah lagi deh ya. Supaya jadi lebih humble “Oh iya… gw masih banyak belum tau ya..”

    Saya juga mau mengkritik Bank Indonesia, komunikasi publiknya terlalu belibet. Terlalu Bahasa teknis. Dengan komunikasi publik yang dilakukan BI saat ini, ini mohon maaf loh… jadi ketangkepnya “Wah pemerintah gak bisa jelasin nih.“ Padahal tidak! Ini miskom aja. Memang kitanya aja belum sepintar ahli-ahli di BI. Sesederhana itu. Orang seperti saya mungkin bisa paham, wong saya sudah belajar ekonomi sampai 10 tahun lebih, and still counting ! Tapi kan tidak semua orang belajar ekonomi toh. Jika saya boleh memberi saran, bukan hanya BI tapi juga pemerintah secara umum, kedepannya mungkin bisa menerjemahkan dengan bahasa yang lebih familiar. Masyarakat tuh cuman butuh penjelasan sederhana, “Kenapa transaksi non-rupiah dilarang untuk aktivitas jual-beli sehari-hari kita?” Sesederhana itu

    Karena saya juga sudah mulai jengah dan gerah melihat “kesoktahuan” beberapa oknum, dan saya tidak ikhlas orang macam itu membodohi masyarakat Indonesia. Maka saya, tante emon, akan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

    Mari kita jawab dulu pertanyaan inti kita ? “Mengapa transaksi non-rupiah dilarang untuk aktivitas jual-beli?”
    Ada banyak jawaban, tapi  yang paling sederhana dan paling relevan untuk kasus warung muamalah ini adalah : Untuk melindungi konsumen.

    HAH ? APA ? BAGAIMANA ?

    Begini

    Jual beli, yang baik dan benar sebenarnya berdasarkan prinsip sederhana: kelengkapan informasi antara penjual dan pembeli. Salah satu bentuk informasi yang penting adalah harga dan kualitas produk. Sebagai konsumen kita berhak untuk liat produknya dan menilai “Oh harga yang wajar untuk kualitas segini kira-kira segini.”  Nah cara kita menilai, secara default akan menggunakan tools alat tukar yang paling sering kita pakai, tentu saja dalam konteks ini:rupiah.

    Mari kita ambil contoh dari kehidupan kita sehari-hari deh, ini pasti relate banget sama Ibuk-Ibuk dan anak kost.

    Karena kita sudah terbiasa dengan transaksi menggunakan rupiah, kita bisa secara cepat menakar harga “Oh iya….harga telur ayam 1 kg kira-kira 25 ribuan lah….”, “Oh harga minyak satu liter biasanya 15 ribuan.”

    Nah, jika suatu ketika kita lihat label harga di suatu pedagang dan merasa “Wah ini kemahalan banget nih. Gak wajar harganya”, “Loh ini ini murah banget? KW ya? Abal ya?” maka konsumen berhak untuk tidak jadi membeli atau mencari barang subsitusi. Dan itu adalah sebuah keputusan yang rasional.

    Intinya! Semakin banyak informasi yang kita miliki terkait pasar, semakin rasional tindakan yang kita ambil.

    Sekarang coba bayangkan kini label harganya BUKAN dalam rupiah. Tapi dengan embel-embel dinar dirham. Dinar dirhamnya tidak jelas lagi, apakah dinar-dirham yang dipakai sebagai mata uang di Timur Tengah? Atau dinar-dirham yang dikeluarkan oleh PT Aneka Tambang (ANTAM).

    Belakangan diketahui bahwa dinar-dirhamnya adalah versi Antam. Okey! Let’s follow the game!

    Yang perlu diingat adalah, dinar-dirham Antam BUKANLAH alat tukar, tapi dibuat Antam sebagai alat diversifikasi investasi. Jadi kalau kita nih mau nabung, tapi kalau uang kan sering menggoda untuk dihambur-hamburkan karena sangat liquid, naaaah… disediakan nih sama pemerintah beberapa instrument investasi. salah satu instrumentnya dalam bentuk logam mulia. Ada yang bentuknya koin yang kemudian disebut dinar-dirham. BUKAN mata uang. Ingat…sekali lagi BUKAN mata uang.

    Balik lagi ke label harga.
    Pikiran kita kini “dikelabui” karena melihat label harga dengan nominal yang seakan-akan jauh lebih rendah “Wah murah nih…” Lalu ditambah embel-embel syariah “Wah berkah nih…” Padahal? Belum tentu! Kan pakai standar harga logam mulia. Ingat, harga logam mulia itu fluktuatif juga loh. Celakanya, kita kan selalu ngecek pergerakan harga logam mulia setiap detik. Iya toh? Nah, jadi….. bisa saja sebenarnya harga yang ditetapkan itu LEBIH  MAHAL dibandingkan harga pasar.  Dan karena banyak dari masyarakat kita yang begitu mudah sekali percaya sesuatu ketika diembel-embeli label “Syar’i”, yaaa rasionalitasnya mulai bergoyang.

    Butuh bukti? Oke!

    Karena saya tahu banyak yang malas membacaaaaaaaaa…… apalagi menghitung, maka saya hitung konversi rupiah dari beberapa produk yang dijual di warung ini. Saya akan buktikan betapa “trik psikologis” ini mengecoh kita semua.

    Saya mengumpulkan beberapa list harga barang yang terekam di media masa. Kalau kalian mendengarkan versi audio, bisa langsung liat skrinsutnya di blog emonikova ya. Produk pertama yang saya cek adalah
    Roti 6 pcs seharga 1 dirham. Kebetulan kameranya sempat shoot kalau rotinya adalah roti michelle. Masalahnya saya kurang tahu ini roti yang rasa mana. Tapi setelah  melakukan proses browsing panjang, ada michelle molen pisang isi 6 harganya Rp 40.000. Emang mau roti kayak gimana lagi sih yang ngelebihin harga ini. Tapi yo wis, kita bulatkan kasar ke atas saja ya jadi Rp 50.000 lah.

    1

    Lalu bagaimana dengan si warung muamalah? Pertama-tama kita harus cek harga dirhamnya dulu dong.

    Saya kemudian mengecek harga koin antam 1 dirham di web LM (yang merupakan anak perusahaan PT Antam) per tanggal 6 Februari jam 8 malam WIB. Nilainya 1 dirham adalah sekitar 94.973 belum termasuk pajak. Buletin ke 95.000 aja lah ya.  Ini sudah saya kasih murah banget loh! Belum dihitung PPn dinar dirham yang 10%. Kalau kalian cek di e-commerce, satu koin bisa sekitar 120-150 ribuan ya.

    Jika kita menuruti logika bisnisnya warung ini, ingat selain rate dinar dirham, dia masih tambah keuntungan 2.5%.

    Maka harga roti tersebut yang satu dirham adalah:
    Rp 95.000+ (2.5% x Rp 95.000)=  Rp 95.000 + Rp 2.375 = Rp 97.375

    dirham

    Yaaaaa 100 ribu lah ya….

    Beli roti molen di bakerynya langsung bisa dapet 12 loh ! Kenyang. Saya sampa cek instagram Michele bakery  loh dan di April 2020 mereka bilang kalau dengan pembelian minimum 150 ribu, kita dapet hadiah canvas bag lucu. Dengan 150 ribu bisa beli molen sampe begah dan bagi-bagi ke tetangga, plus gratis canvas bag. Roti 20 udah bisa buat bagi-bagi ke tetangga, dapet hadiah lagi. Ya mending beli ke bakery-nya langsung lah.  

    2

    Rasional dong ? Ya toh… tapi karena si trik psikologis ini, ya menjebak !

    Ayo lanjut lagi ! Kalian pikir saya selemah itu dalam browsing. Produk kedua yang saya cek adalah VCO, alias Virgin Coconut Oil. 2 Dirham coy !
    Dengan metode yang sama maka kita bisa hitung
     VCO (2 dirham) = 2 x  97.375 = 194.750

    3

    Yah kurang lebih 195 ribuan ya, bok.
    Okay… terkesan masuk akal ya, karena saya kan gak paham harga VCO ya. Maka saya kemudian cek harga di tokped. (Gila promosi tanpa henti nih… tolong lain kali e-commerce sponsorin saya lah).

    Dan tadaaaaa berdasarkan hasil penelusuran saya~~~Paling mahal itu agaknya 100 ribuan/liter ya.

    Atau gak tau deh, mungkin kalau yang 2 dirham minyaknya punya fungsi khusus atau gimana.

    4

    Duh capek, coba ya nanti hitung sendiri yang lainnya. Intinya, bisnis ini sebenarnya rentan sekali mengecoh konsumen. Kenapa ? Karena kita… sebagai konsumen, secara default punya pengetahuan tentang harga pasar yang lebih sedikit dibandingkan pihak produsen dan distributor. Ketika kemudian digoyang dengan “konversi” mata uang yang gak lazim. Ya makin pusing.

    Kok ada sih, adaaaaa yang mau dipermainkan seperti ini.

    Dan kalian tau gak sih, pajak pertambahan nilai (PPn) dinar dirham ANTAM itu lebih tinggi dibandingkan pajak logam mulia murni yang batangan. Jadi secara sederhana, sebenarnya harga beli dinar-dirham ANTAM lebih tinggi dibandingkan emas batangan biasa. PPn emas batangan itu 0.45% untuk investor dengan NPWP, kalau gak punya NPWP PPn-nya 0.9%. Sedangkan pajak dinar-dirham itu 10%.

    Jadi hasil perhitungan saya sebenarnya masih under value karena saya belum menambahkan PPN 10%.

    Itulah mengapa kemudian “pelakunya” dibawa ke kantor polisi. Karena kemungkinan besar mereka udah menipu konsumen yang naif dan polos-polos. Gak ngerasa kena tifu tifu.

    Yang membuat semuanya semakin ambyar adalah, berdasarkan salah satu pengakuan pedagang warung tersebut,  seluruh transaksinya tidak berizin. Ini membuat konsumen sebenarnya dalam posisi yang lebih tersudut lagi.

    Justru karena ada transaksi logam mulia, dan ini barang investasi, barang asset, BUKAN ALAT TUKAR. Sekali lagi, BUKAN ALAT TUKAR. Sekali lagi! BUKAN ALAT TUKAR! sekecil apapun usahanya, harus ada izin. Setidaknya lapor atau tanya-tanya dulu deh. Kemana? Coba kalian tanya dulu ke Lembaga yang Namanya Bappepti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Supaya dapet wejangan. Bappepti ini ada di bawah Kementerian Perdagangan, kantornya ada di Senen. Gak akan ditimpuk sendal kok kalau mau nanya dan niat baik. Toh Namanya mau belajar kan.

    Loh kenapa? Ini kan usaha kecil-kecilan. Ribet amat.
    Karena harus ada yang mengecek keaslian dan kualitas logam mulia, serta melindungi konsumen. Ini logam mulia loh, bukan daun kelor! Harus ada yang mengawasi. Kalian gak sayang sama uang kalian?

    Hitunglah kita apes-pes-pes beli dinar-dirham di warung ini, dan setelah dibawa ke pegadaian misalnya, ketahuan bahwa barangnya palsu. Atau kualitasnya gak sesuai standar. Kalian mau complain? Atas dasar apa? Punya sertifikat keaslian dinar-dirhamnya? Gak? Mau balik ke warungnya, yeeee… mana mau dia balikin, kan Anda tidak punya bukti transaksi.
    Sontoloyo kan? Terus marah… terus apa? Ke pegadaian? Ke Antam? Ke BI? Lah mereka kan gak paham, bingung juga mau nolonginnya gimana. Yok… perlakukan diri kita lebih baik, dengan lebih berhati-hati dalam bertransaksi.  

    Maka itulah, itulah, itulah, itulah, dibuat peraturan UU No.7/2011 “Udah deh kalau mau transaksi jual beli ya pake rupiah aja. Yang pasti-pasti aja coy!”  Ada UU-nya loh. Lumayan, kalo langgar maksimal 1 tahun penjara coy.

    5

    Dan perkara logam mulia, udah lah beli di tempat-tempat yang pasti-pasti aja. Di pegadaian misalnya, toko perhiasan resmi, toko logam mulia, atau di e-commerce yang sudah mendapat izin jual beli logam mulia. Kemudian simpan yang rapi di kotak perhiasan, di safety box. Ini ada catatan penting lagi, pastikan kalian tuh dapet si sertifikat keaslian logam mulia dan jelas tempat dan waktu membelinya, sehingga kalau kelak mau dijual lagi kalian bisa tenang karena keaslian produk sudah dipastikan. Kalau misal mau complain dsb, bargaining position kalian pun kuat, karena ada bukti transaksinya kok.

    Jadi sekali lagi, ini bukan perkara pemerintah gak pro dengan ekonomi syariah, atau anti agama tertentu.  Ini tentang kita loh… KITA… ini pemerintah lagi mau melindungi kita semua sebaik mungkin. Maksudnya tuh baik.


    Silat lidah lainnya yang cukup menggelitik adalah salah satu pedagang di warung tersebut bilang, dirham yang dipakai untuk transaksi adalah dirham zakat ke para mustahik (objek zakat), naaah mereka kan perlu belanja, makanya nanti belanjanya di warung ini nih, pake si dirham zakat tadi. YA ALLAH PELIT BANGET GAK SIH ! GAK MAU RUGI ABIS !

    Kalau saya sih, dapet dirham… waaah, saya cek ke pegadaian terus saya tuker disitu :p ngapain harus ke warung kecil random, repot lagi gak buka tiap hari.

    Kok ya banyak dari kita yang kemudian pasrah aja diakal-akalin hanya dengan cover agama.
    Jangan begitu… Allah itu menciptakan kita pake paket lengkap loh, punya hati dan pikiran. Maka hargai pemberian itu dengan cara dirawat dan dioptimalkan sebaik-baiknya…dipakai saudara-saudara.

    Banyak loh ayat-ayat di dalam Al-Quran diakhiri dengan “… Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.” Berpikir… hal yang diciptakan Sang Mahakuasa saja harus diresapi melalui proses berpikir sampai kita bisa memahami tanda-tanda kebesaran-Nya. Apalagi hal-hal yang dibuat manusia? Termasuk perkara warung-warungan ini. Masa’ gak ada upaya berpikir kritis sama sekali sih?

    —-

    Saya rasa tidak perlu diperpanjang lagi ya.
    Saya masih berbaik sangka loh, mungkin maksud tersangka ini baik.
    Semoga mempan aja sih di edukasi pemerintah dan aparat.

    Saya lebih khawatir netijen julid sotoy, yang makin hari makin galaaaaaaaak :’D
    Ngeri…
    Oh ya, dateng ke blog saya ya, masih ada tambahan Q&A netijuliden.

    Terima kasih, saya tante emon,
    Kita ketemu di emonikova investigasi di lain hari.

    Sebagai bonus untuk kalian yang baca blog saya! Saya mencoba membuat Q & A dari celotehan-celotehan para netijen yang aduhai :’)

    Nama dan foto saya sembunyikan ya, tapi kita perlu jawab pertanyaan-pertanyaan wadidaw yang ada :

    Q : Loh kalau bitcoin gimana ?

    yutub

    A : Loh ya sama saja. Bitcoin ini kan aset digital ya, kategori crypto Currency.  Nah, ini info juga, transaksi investasinya legal JIKA DAN HANYA JIKA perusahaannya crupto currency ini masuk list yang dilegalkan oleh Bappepti. Dan itu ada macem-macem aturannya, mumet lah pokoknya. Bisa dibaca di Peraturan Bappepti no. 5/ Tahun 2019. Kalau gak salah, perusahaan penyedia jasa cryptocurrency  yang “legal” itu harus masuk list bursa Aset Kripto terbesar di dunia, harus register ke Bappepti, dan harus bayar pajak.

    Jadi inget, gak bisa yang abal-abal ya. Kenapa? karena ini kan aset digital ya, barangnya tuh harus dipantau terus. Jangan sampai kayak berasa udah punya aset gedeeeeee banget, eh pas mau ditarik zonk! Itu hal yang suka disebut “bubble” dalam ekonomi.

    Jadi hati-hati loh ya, cek dulu legalitasnya di Bappepti. Dan lagi-lagi! Udahlah mending rupiah aja.

    Q: Loh di Bali turis boleh bayar pake dollar. Kenapa ini si dinar dirham gak boleh.
    A: Eits, Anda yang kurang jeli.
    Dollar ini mata uang loh, alat tukar. Jadi dia memang bisa dipakai untuk bertransaksi.
    Di kawasan pariwisata, turis bayar pakai dollar itu sesungguhnya melibatkan dua transaksi. 1. Transaksi jual beli barang, dan 2. Transaksi menukar uang, Bahasa pasarnya money exchange.

    Idealnya, Kawasan pariwisata itu sudah pajang rate nilai tukar mereka pada hari itu berapa. Ketika ada turis bayar nasi goreng pakai dollar, sebenarnya turis ini pertama-tama menukarkan mata uang mereka ke rupiah, lalu membayarkan nasi goreng yang mereka beli dengan rupiah. Tapi antrian kan panjang ya bok, kalo harus saklek begitu prosesnya, bisa-bisa kasirnya kena lempar piring nasgor.  Maka boleh deh mister bayar pake mata uang mister, nanti kembaliannya pakai rupiah/ rate rupiah.

    Dan transaksi ini, sesungguhnya baik untuk ekonomi, karena semakin banyak turis yang belanja-belanji dan makan-makan, maka berarti semakin banyak yang membutuhkan rupiah. Permintaan terhadap rupiah akan naik. Ingat, permintaan itu berbanding lurus dengan harga, maka harga rupiah akan naik… sesuatu yang kalau di berita kita denger “Rupiah menguat.”

    Itulah yang sering kita denger di berita “Sektor pariwisata dianggap mampu menggenjot nilai rupiah.” Gituuuuuuu!

    Q: Padahal kan lebih baik transaksi pakai dinar dirham / emas ya. Kalau rupiah kan bisa turun.

    chathahha

    A: Duh ini dosa sih berghibah. Eh tapi semua identitas kan saya samarkan. Melihat ke-PD-annya sih mungkin gak akan sadar ya dighibahin. Ini untuk belajar aja ya. Oke… oke… oke…Saya prihatin komentar seperti ini justru tercetus dari orang berpendidikan dan pendidik loh. Belajar ekonomi lagi.
    Loh, siapa bilang harga emas selalu konstan (maaf ya, konstan… bukan konstanta).

    Untuk sekadar informasi aja, konstanta itu adalah kata benda ya, artinya nilai yang tetap, fixed. Kita benerin secara EYD, jadi “konstant” yang merupakan verb, alias kata kerja. Maknanya kalau dalam matematika itu adalah tidak bervariasi.

    Lha emas tidak bervariasi di belah mananya coba?
    Mari kita lihat harga logam mulia itu tiap jam berubah loh.

    emas-1

    Per-minggu juga.

    emas-2

    Jadi sebenarnya kalau mau investasi logam mulia dalam jangka pendek, ya tetep fluktuatif.
    Kecuali… kalau ingin investasi jangka panjang, dan itu baru make sense.

    2 tahun

    emas-3

    5 tahun

    emas-4

    Tapi seperti yang bisa kalian lihat, nilainya tetap fluktuatif. Risiko rugi ya tetap ada.
    Mengapa demikian, karena harga emas juga juga punya acuan. Harga dollar dan bursa commodity exchange (COMEX). Ya… logikanya jadi sama saja, harga selalu berubah bergantung pada supply dan demand.


    Selain itu,  ada logika yang keliru di sini. Nilai tukar rupiah kan memang bergantung pada jumlah permintaan dan penawaran rupiah. Namanya juga mata uang, namanya juga open economics. Kita kan terlibat perdagangan internasional.  Ya mau gak mau nilai mata uang kita akan berfluktuasi. Dan jangan khawatir, karena sementara ini rezim yang paling sesuai untuk kita sejauh ini.  Kan kita pakai rezim nilai tukar managed floating. Bank Indonesia membiarkan nilai rupiah berubah-ubah bergantung pada tingkat permintaan dan penawaran mata uang selama tidak melewati “batas aman” yang ditetapkan.  Ini otoritas moneter mantengin terus.

    Terus mau pakai apa? Fixed exchange rate? Kan dulu belajar, ketika orde lama kita mengadopsi fixed exchange rate, tapi devisa kita tidak kuat untuk membayar seluruh permintaan mata uang asing (yang paling banyak dollar). Situ yang mau bayarin? Apa pakai dinar dirham? Yakin cadangan mineral kita cukup? Atau oke lah cukup, siap kena longsor? Jepang misalnya, menghentikan mayoritas tambang mineral mereka karena mereka lebih khawatir ekosistem mereka rusak. Udah kena Minamata, kena bom atom, radiasi nuklir, masa harus ngerusak alam lagi? Untung pada baik dan pinter-pinter. Jadi invest di teknologi untuk system daur ulang yang ciamik.

    Kalu semua orang mikirnya kayak oknum mereka-mereka sih, wassalam… justru makin runyam ekonomi Indonesia.

    Dan itu harusnya kalau anak ekonomi S1 sih belajarnya pas semester 1 tingkat 1 🙂 karena meh banget. Semoga ya, kalian semua dijauhkan dari pendidik yang ngajar asal ceplos :’) aamiin.

    Ini juga bentuk kemarahan saya. Literasi masyarakat Indonesia itu masih rendah loh, jangan kemudian di-edukasi dengan ceplas-ceplos tidak berdasar. Apalagi, apalagi, kalau kita sudah menempuh bangku Pendidikan  di universitas. Kan sudah belajar toh untuk maju sidang harus kumpulin data dulu, harus dianalisis dulu, harus diuji dulu, harus berpikir dulu… baru bisa berargumentasi!

    Masa’ hal sefilosofis itu gak diimplementasikan dalam kehidupan sih? Masa’gak sayang sih menempuh Pendidikan lalu tidak mencapai kualitas critical thinking yang tajam dan kritis?

    Kalian mau mengemukakan pendapat apapun, saya sih terserah. Saya kan cuek-cuek aja selama ini.
    Tapi tolong…tolong… terutama untuk para civitas akademika.
    pikirkan apakah argumentasi kita benar, cukup bukti atau tidak.  Jangan sampai, tanpa sadar,  kita berpartisipasi membodohi masyarakat Indonesia dengan ucapan yang bahkan tidak melalui proses kontemplasi yang panjang, serius, dan mendalam.

    Gitu aja sih. Itu kan hal yang konseptual banget ya.

    Sekian dari tante, semoga membantu kalian memahami apa yang sebenarnya terjadi.

  • ==============================================================

    UPDATE! UPDATE! UPDATE! (12102020)

    hari ini muncul di media terkait “final draft UU Cipta Kerja”. Agak bikin emosi sih karena masyarakat jadi mikir “Lah… kemaren yang diketok apa? draft yang belum jadi apa gimana?” tapi ya sudahlaaaaaah yaaaaaaa. Tenang….
    Tapi mari mulai dari good news dulu. Setidaknya, dari pengamatan Tante, masyarakat berhasil menekan pemerintah untuk lebih berhati-hati dan gak usah maen-maen sama barisan rakyat (tentu dengan netijen di garis depan AHAHAHAHAHA). Yang pasti sih, jumlah halamannya jadi 1000++ sekarang ahahhahaha. makin tebel.
    So, mari kita lihat pasal tentang lahan ya 😀

    Oh ya! Naskah yang tante jadika rujukan didapatkan dari web CNBC Indonesia yang bisa kalian klik di sini. Jadi kalo ada salah-salah, marahin CNBC ya ahahahahahhaha.

    Well, secara umum pasal 124 gak jauh beda ya….

    IMG_4090

    Tapi sepertinya untuk menenangkan para aktivis lingkungan hidup dan pengamat lingkungan, pemerintah kemudian memaparkan “lahan untuk fasilitas umum itu apa sih?” dua diantaranya adalah kawasan suaka alam/ suaka budaya dan kawan untuk lahan pangan. Jadi kayaknya kalo mau gontok-gontokan (amit-amit ya) kita yang punya kawasan lahan pertanian pangan atau masyarakat di kawasan hutan adat, bisa keukeuh bilang “Hei… lahan kami juga untuk kepentingan umum”. Yah mayan… walau tetap ada masalah karena kita masih punya PR dalam menetukan batas-batas hutan, suaka alam, dan suaka budaya. Jadi semoga pemerintah bisa selesaikan ini dulu ya. Sebenarnya bisa cepet beres sih kalau kebijakan satu peta kelar. Sayangnya, hingga tulisan ini di tulis, webnya masih sering ngelag juga :’D

    IMG_4093
    IMG_4092

    Masih ada celah? Masih….
    Salah satu yang mungkin “rentan” adalah memanfaatkan “kemudahan” perizinan untuk lahan <5 ha. Karena perizinan untuk lahan <5ha akan sangat longgar sekali ya sepertinya.

    IMG_4091

    Kalau yang berwenang mau “jahat” sih mungkin bisa ya beli lahan <5 ha sedikit-sedikit lalu lama-lama jadi bukit. Ahahahahaha… ah gak mau komen ah 😀 nanti dibilang ngasih ide jahat. Tapi mmmmm….. sekali lagi dari sudut pandang pengamat lingkungan hidup dan pecinta alam ya, amdal itu perlu loh, sekecil apapun lahannya. Kalau petani kecil sih ditawarin harga yang kayanya tinggi pasti langsung jual. Pemerintah gak belajar dari kawasan puncak yang akhirnya penuh sama vila? terus pas banjir di jakarta marah-marah ke kawasan puncak. Mmmm… gak lupa dong 🙂 Tante tidak anti pembangunan, I support that. Tapi manusia gak bisa fotosintesis, maka sebagai khalifah di muka bumi ini mbok ya sayang-sayang juga sama alam dan segala isinya gitu loh.

    But anyway…. tante emon gak bisa selalu nulis dan nemenin kalian beropini. Tapi yang pasti, rupanya kita bisa juga ya mendesak pemerintah ketika kita punya keresahan bersama. Dan tante percaya kalau kita bisa bertindak kalau kompak. Gak perlu saling caci, cukup paparkan pemahaman kita dengan cara yang elegan dan sopan.

    Sopan bukan berarti loyo! Jangan lengah! Lanjutkan dan kawal pengesahan UU ini. Tante percaya masih banyak celah yang lebih besar dari yang tante bisa temukan. Mungkin kalian yang lebih paham 😀 jadi yok… kompak kita kawal pemerintah dan omelin kalau perlu. KITA HARUS PUNYA PEMIKIRAN KRITIS! KARENA KITA GAK MAMPU BAYAR PENGACARA SEKELAS OM HOTMAN KALO KALO KESANDUNG MASALAH HUKUM! Oke!

    Anyway! Crewmate! Tante bangga sama kalian!

    IMG_4087

    ==============================================================

    UPDATE! UPDATE! UPDATE! (09102020)

    Pak Presiden akhirnya angkat bicara hari ini terkait UU cipta kerja.
    Kita dengarkan paparannya ya gengs!

    Tante emon percaya, selalu percaya, pemerintah itu sebenarnya ada itikad baik untuk kebaikan masyarakat. Di seluruh buku teori ekonomi, pemerintah selalu disebut memiliki peran untuk “Pemerataan kesejahteraan.” Mungkin… ini mungkin…. pemerintah ada baiknya memberi saluran untuk kita semua yang memiliki pertanyaan dan unek-unek terkait naskah UU yang beredar. Berikan waktu untuk kita semua memahami dan bertanya. Izinkan para ahli dan akademisi menganalisa.

    Masih ada asa terhadap pemerintah, walau masih belum bisa sepenuhnya menghapus tanda tanya dan kegelisahan. Semoga kita semua berhasil dan mampu menemukan jalan tengah.

    =========================================================

    Kata Gus Mus, “Bicaralah hal yang merupakan bidangmu.” Maka tante emon gak berani untuk membahas seluruh rangkaian UU cipta kerja yang sedang heboh itu.

    Akan tetapi sebagai peneliti yang sedang meneliti dampak kebijakan perubahan iklim dan pertanian di Indonesia, ada beberapa hal yang rasanya bisa saya telisik. Tidak berani bilang “salah” atau “benar” ya, maklum… salah-salah nanti malah tante di sidak UU ITE. Hanya rasa-rasanya kok… ruwet bin mumet gituuuu.

    Selain itu kondisi tante yang mudah encok, dan mata yang udah mulai burem kalau lihat dokumen berhalaman 900++, tidak memungkinkan baca satu per satu dokumen “Dewa” tersebut. Maka mari kita bahas satu pasal saja. Pasal 122 (Bab VII. Pengadaan Tanah).  Oh iya dokumen ini diperoleh dari Tirto.id ya. Jadi kalo ada salah-salah, marahin Tirto aja (hayooo loh, To!).

    Pasal 122 ini intinya sih, secara satu kalimat, atas nama “Penciptaan Kerja” konversi lahan diperbolehkan. Termasuk Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (tante singkat menjadi: LPPB).

    1

    Karena ada masalah pangan (dan kita mencintai pangan) maka kita loncat dulu ke poin b terkait si LPPB ini. Maka ayo kita loncat ke Pasal 124! Cerita berawal dari UU No.41/2009 yang diubah sehingga LPPB dapat dikonversi jika terkait dengan kepentingan umum maupun proyek strategis nasional (poin 2). Agak pusing sih, soalnya di poin 1 DILARANG eh di poin 2 DIPERBOLEHKAN. Ini maunya apaaaaaaaaaa? Apaaaaaaa? Apaaaa? Yah yo wis lah, lanzut!

    2

    “Wah! Aku ingin mengubah sawahku menjadi area komersil yang penuh remah-remah kekayaan duniawi! Apakah syarakatnya?” Syaratnya ada di point 3, yaitu:

    3

    Selintas terasa baik-baik saja kan? Akur?
    Yes! Namun celah kebijakannya cukup besar.

    Jadi semua lahan boleh jadi lahan pengganti untuk lahan yang dikonversi? Lalu bagaimana dengan lahan hutan? Lahan gambut?
    Apakah alih fungsi lahan harus ada wilayah territorial yang sama? Bisa beda propinsi? Apakah tingkat kesuburannya sama?

    Untuk pembacaku yang baik yang belum pernah digojlok pengantar ilmu pertanian selama satu semester dalam hidupnya. Kalau ini LAHAN PERTANIAN PANGAN… maka produktivitas lahannya harus cukup untuk kultivasi tanaman pangan dong. Iya dong? Nah kalau kemudian lahan penggantinya di area yang tidak produktif, ya petani rugi. Anda pikir mengembalikan tingkat kesuburan tanah itu mudah? Hey hey hey… anak Ilmu Tanah IPB sampe belajar redoks dan kimia tanah hanya untuk mencari cara mengembalikan produktivitas tanah. Jika lahan “pindahan” ini tidak terlalu produktif, petani harus keluar budget lagi untuk pupuk, irigasi, pembersihan lahan, dsb.

    Lebih gila lagi kalau rupanya malah dikasih lahan basah dan rawa. Keluar budget lagi untuk liming (pengapuran)… nyari varietas yang sesuai, dan aneka keruwetan lainnya.

    Ya masa iya mau dipindahin ke atas Gedung DPR?

    Terus gimana? Nebang pohon?
    Wallahu’alam… hanya yang bikin UU yang tahu. Allah juga tahu, tapi kayaknya udah ngelus-ngelus dada.

    Pertanyaan yang sama berlaku untuk lahan pertanian yang dikonversi. Jadi gimana? Kalau misalkan lahan tersebut adalah area agroforestry yang sudah establish? Atau lahan pertanian itu rupanya beririsan dengan kawasan hutan yang sudah memberikan kekayaan biodiversitas dan udara yang bersih untuk Indonesia? Atau bagaimana jika kawasan tersebut ada di wilayah kaum adat?

    Mau ditebang gitu? Terus lahan penggantinya dimana? Ditumplekin di atas lahan istana presiden sama Gedung DPR juga gak akan cukup.

    Yang lebih rumit adalah kaum adat. Batas-batas hutan adat di Indonesia itu belum jelas, namun kawasan ini dijaga serta dimanfaatkan oleh indigenous people yang setiap merawat kawasan tersebut. Mereka memang buka sedikit-sedikit lahan pertanian, tapi duuuh segimana sih bukanya? Keciiiiil bgt. Mereka orang-orang yang menjaga lingkungan GRATIS tanpa meminta bayaran dari pemerintah. Tulus dan jiwanya murni sekali. Tante aja masih gila harta. Mereka gak… mereka ikhlas menjaga kelestarian alam dari dalam hati.

    Nah… kalau misalkan proyek pemerintah lewat daerah hutan adat, mau diapain? Mau diganti apa? Diganti dengan pahala seluruh anggota DPR dan staf pemerintahan juga belum tentu cukup. Mereka menjaga kelestarian alam loh. Emang kalian mau disimpen di hutan tanpa sinyal dan harus cari makan sendiri di belantara? Tante sih tidak siap ya.
    Makanya kita harus berterima kasih kepada masyarakat-masyarakat adat seperti itu. Eh eh eh… dengan adanya UU ini malah berpotensi mau digusur ☹

    Tapi tante kan optimis ya “Ah masa iya… masa iya gw yang newbietol ini aja bisa aware dengan celah ini. Masa yang nulis kejem-kejem banget sih? Masa gak nyampe mikirin kawasan hutan dsb”

    Maka tante pun skrol balik ke pasal di atasnya. Pasal 123 (Bagian kedua: Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum).

    4

    Pasal ini menambahkan beberapa poin untuk UU No. 2/ 2012. Dan… seluruh ke husnudzan ini ambyar setelah membaca pasal tambahan 19C.

    5

    Sampe ngucek-ngucek mata pas baca “TIDAK DIPERLUKAN LAGI”!

    Well, gak mau menyimpulkan sih. Tapi kayaknya mau itu lahan gambut, hutan, mangrove, sawah, neraka Jahannam, semua bisa dialih fungsi dengan dalih untuk “penciptaan kerja dan kepentingan umum”

    Ini permisi ya… apakah yang bikin UU sudah lihat statistik yang sudah disusun BPS hingga pada begadang? Pertanian (dalam definisi luas) kita masih menyerap banyak tenaga kerja, terutama di pedesaan. Jadi ini mau menciptakan atau mau menghilangkan pekerjaan? Bingung aku tuh. Arghhhh…..

    Sungguh, batin ini ingin berteriak… UU ini amatlah laknatullah, karena kita diajak berputar-putar, skrol atas-bawah untuk menelisik setiap poin per pasal. Ini jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan,  masih banyak poin yang “bercelah” tapi luput karena stamina kita yang terbiasa sebagai kaum rebahan selama PSBB memang tidak kuat scroll dokumen ini terlalu lama. Ndak kuwaaaaaat, Baaaang!

    Dengan segala kerendahan hati dan maaf yang sebesar-besar, namun bagi saya pasal ini sungguh memutar balik logika. Karena kemudian kontradiktif dengan banyak kebijakan lain (yang wallahu’alam mau diseriusi atau gak ya).

    Kita ini loh ya, mau menurunkan emisi setidaknya 29% dari Business as Usual level di tahun 2030. Emisi kita mayoritas dari perubahan serta kebakaran lahan dan gambut. Lah… ini mau nambah-nambah kerjaan untuk konversi lahan.
    Kita ini loh ya….
    Padi kita, produktivitasnya sudah hampir mentok, mungkin akan mulai diminish beberapa tahun kedepan. Lah ini lahan pangan mau dikonversi? Biar bisa impor lebih banyak?
    Katanya mau mengurangi impor pangan?
    Belum lagi tingkat stunting kita masih sangat tinggi! Ditambah tingginya food waste and loss! Penyerapan pangan kita belum optimal, lah… lahan pangannya mau ditekan dengan adanya UU ini.
    Jadi masyarakat Indonesia mau dikasih makan apa? Disuruh fotosintesis?

    Jadi maunya apa?????

    Apa biar tahun depan ada kerjaan jadi bisa bikin UU lagi?
    Nyari aktivitas gak gitu-gitu amat kali ya ☹ Ada banyak hobi positif yang bisa dicoba loh? Belajar musik, ikut marathon, cuci tangan pakai sabun. Bukan cuci tangan kalau ada masalah (aw..aw..aw..).

    Perlu gw bicara sebagai ekonom? Fine! UU ini gak untung2 banget secara ekonomis, apalagi untuk masyarakat berpenghasilan menengah kebawah. Gak usah ke sisi makroekonomi lah. Kalau segi lingkungan tidak ditelisik secara lebih teliti, maka siap-siap saja bencana alam makin sering mampir ke tanah air. Klo kena bencana alam memangnya gak rugi secara ekonomi? Itu menghilangkan kapital ya.
    Oh well…paling paling kita akan literally jadi tanah air, tinggal nyisa tanah dan air :’) Ulalala…

    Lemas rasanya menelaah satu pasal ini saja.
    Tapi tante tuh masih berharap loh, pemerintah punya sedikit sisi welas asih di hatinya.
    Pikirkan seluruh pendapat-pendapat para akademisi dan ahli.
    gak perlu dengerin tante yang newbitol ini, banyak sekali cendekiawan Indonesia yang pintar luar biasa tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka siap kok kalau ditanya pendapatnya.

    Secara pribadi, tante juga miris dengan kelakuan para angkota dewan yang kekanak-kanakan (sorry). Yang bahkan tidak memiliki kedewasaan emosional untuk mendengarkan saran, masukan, dan kritik masyarakat. Hal ini yang sangat melukai hati masyarakat.
    Wahai Bapak/Ibu dewan yang terhormat, jangan lukai hati kami… karena benang-benang fibrin tak mampu menambal hati yang luka.

    Atau jangan-jangan ini azab dari Allah ya? Duuuuh…
    Maafkan kami ya Allah. Kami memang suka julid di internet, kami juga kadang suka iri hati dikit-dikit melihat orang lain pamer kebahagiaan. Tapi kami tidak kuat jika azabmu adalah dikaruniai pemerintahan yang ******** (micnya dimuted, tapi Tuhan dengar bahkan untuk suara semut sekalipun).

    Namun sungguh pepesan kosong kalau tidak ada alternatif solusi.
    Dari tante pribadi ya….

    1. AMDAL itu perlu. Terlepas dari Amdal kita yang memang masih banyak kekurangan sana-sini. Tapi itu jauh lebih baik daripada gak ada. Setidaknya ada pihak independen yang aware dengan lingkungan. Bukannya gak percaya sama pemerintah ya, tapi pihak independen juga penting untuk ikut serta untuk menjaga kepercayaan publik dan meningkatkan validitas data lingkungan.
    2. Tolonglah semua jangan dilihat dari accounting cost… lalu mengeluarkan banyak sekali social cost dari sisi lingkungan, sosial, waaah banyak.
    3. Mungkin sebelum membuat UU, pahami dulu UU yang lain sebelumnya. Jangan sampai malah overlap lalu gontok2an sendiri. Ya seperti pasal tentang lahan pangan ini.

    Demikian dari tante emon.
    Mohon dilanjut bagi kalian yang punya expertise yang lain. Maaf kawan, tante cuman kuat baca satu ini aja :’) lanjutken perjuangan!

  • Sebagai bagian dari warga Indonesia, pasti banyak yang bertanya “Ih kok udah kepala 3, masih sendiri aja.” Jika pembicaraan semakin kejam, maka akan berlanjut “Cewek lagi….nanti susah punya anak ya.” Yah gak usah jauh2… setidaknya itu yang terjadi sama Princess Syahrini :’D. Gimana kalau gw aja yang cerita kenapa…. kenapa ya beberapa orang belum bertemu jodohnya, atau sudah tapi mikirnya lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget! Setidaknya dari pengalaman gw. Yok, udah siap gelar tikernya? Jangan lupa jaga jarak dan pakai masker :’D 

    
Gw mengawali hipotesis gw dengan kata: Kaget! 
Yaph! Kaget yang membuat ambyar seluruh logika dan konsentrasi kita. Loh? Apa hubungannya? Begini….
Sebagai cewek normal, gw juga pernah dan bisa naksir2an. Tapi ya gagal beberapa kali karena banyak hal. Tapi dari sisi gw sendiri, gw mungkin tidak seperti kebanyakan teman sebaya yang secara mental siap mengarungi bahtera rumah tangga. Ya Allah, mengarungi bahtera selat Bali pake ferry aja gw mabok. 
Dari sisi gw, kesiapan emosional gw memang cemen. Gw masih sedih kalau inget tentang ayah gw. Dan wah… kadang suka random aja “Duh kalau gw nikah, suami gw meninggal muda gimana ya.” Akhirnya… seperti followers Jousk* gw kan jadi parno dan malah asik mencari dan menimbun emas berlian. BWAHAHAHHAHAHAHA! 

    
Iya! Serandom itu! SERANDOM ITU! Gw aja kaget! Shock, liat kaca, terus ngomong, edan… gw bisa kayak gitu juga ya. Dan jujur deh, gw sedang enjoy dengan kesendirian gw. Tinggal di apato mungil yg gw bebas acak2in dan bisa eksperimen macem macem di balkon. Gw merasa akhirnya gw menemukan jati diri gw. Huwaaaaaaa, rasanya kayak baru abis cukur rambut dan creambath! Fresh dan ringan banget. Kayaknya, klo gw bisa angkut Mama, adik, dan kucing2 gw untuk selalu bareng gw, udah sih… gw pasti mager untuk mikir mau ngapain lagi.

    
Eits, tapi inget… sedingin apapun orang, pasti butuh temen juga lah. Nah, gw yang memutuskan untuk gak usah punya temen banyak2 banget, karena ribet, malah berakhir jadi tempat curhat banyak orang! Mungkin karena mereka yakin rahasia mereka aman di gue, wong gw gak ada rekan gosip.
Capek juga kadang. menjaga rahasia itu berat loh. Apalagi kisah kisah yang mendarat di meja redaksi gw serba serius. Mulai dari masalah mental health, toxic family, muacem muacem! Abis kalau curhatnya ke para ukhti atau akhi cuman disuruh mendekatkan diri sama Allah, hellooowwwwww…. mereka juga tau keles gak bego bego banget untuk tahu solusi seperti itu. Mbok ya kasih moral support atau tawaran solusi yg lebih konkrit
.

    Pada akhirnya, gw juga butuh curhat dong. Tapi gw harus mikir mikir juga, ke siapa ya cerita gw bisa “aman”

    
Jeng jeng jeng…. di sini gw mulai main api pake korek dan tabung gas melon


    Gw cerita deh dengan seorang cowok, kita sebut saja Mamas. 

    Nah, Mamas ini tipe favorit gw banget lah! Dieeeeeeeeeem! Gak banyak komentar, kikuk, kaku, namun baik hati. Kayak kucing abu abu yang doyan ngaso di ubin rumah sambil menikmati sepoi angin dan rintik hujan. Cuman ngeong kalau disodorin ikan sama nasi anget. Nah, kira-kira begitu. (Maaf… gw kesulitan memberikan deskripsi yg lbh manusiawi)


    Dan macam cerita when Harry meets Sally, tentu pada akhirnya semua niat mulai berubah arah. Perahu mulai oleng melawan angin. Dan gw jadi sadar, rupanya kisah romansa manusia seumuran gw tidak semanis ubi madu. 
Kita menyadari bahwa hidup dan perangai kita gak keren keren amat. Banyak kekurangan sana sini. Banyak masalah yang ruwet dan uwel uwelan seperti kabel headset di dalam ransel. Jangankan menceritakan ke orang lain, nulis di buku harian terus kita baca sendiri aja rasanya pengen bakar bukunya. Setidaknya, bagi gw… ada saat ketika gw bahkan gak pede dengan eksistensi diri gw sendiri. Gw merasa banyak hal gak sempurna yang klo boleh, gw gak mau tau juga.

    Lalu… lalu… lalu… entah kerasukan makhluk astral dari mana, tiba-tiba tercetus ide untuk “cek ombak”: menceritakan segala kejelekan itu ke seseorang. Entah apa guna dan mashlahatnya ya, tapi penasaran aja apakah ada orang yang tahan dengan segala keanehan gw yang wadidaw ini?
Gw pun memulai social experiment ini ke si Mamas ini. Secara mengejutkan, dia adem ayem aja. Agak zonk sih, karena ekspektasinya akan terjadi pertempuran ala ala 2 kubu di pertandingan tarkam. Namun, tidak…. tidak terjadi apa apa. Seperti kucing abu di ubin rumah, dia tetep selow menikmati angin sepoi dan hujan rintik. Mungkin tinggal tambah senja dan kopi hitam biar jadi kucing abu indie.

    Oh… Mas kucing abu. 


    Eits, gimana? Sejauh ini kisah Mas Kucing Abu ini adem ayem aja kan. Ya… ya… ya…tentu. Tapi bukan mendewasa jika sesuatu tanpa masalah. Kita memang doyan keributan yang memacu adrenalin. Gw pun. 


    Mas kucing abu ini, diam sekali…. karena gw males dengan keributan, gw enjoy sih. Tapi, mmmm… rasanya kok gw terus ya yg menghujani Mas Kucing Abu ini dengan aneka cerita random? Sulit sekali crack up Mas kucing abu, suliiiiit sekali. Gw sih cukup PD gak ada banyak orang yang sanggup handle kucing abu ini. Hati-hati, kucing abu ini walau selow, tapi klo buntutnya keinjek, ya nyakar juga. GRAUUUUP miaawwwwrrrrrr!


    Beritanya adalah, perlahan… dia mulai cerita tentang dirinya, masa lalunya, keluarganya, semuanya….
Gw kira gw siap… rupanya gw KAGET!
Menjalin hubungan, menjalin tali silaturahim aja gw mulai mikir “ hah? Apa gw mampu?”


    Dibalik kebaikan dan ketenangannya, rupanya Mas kucing abu tetaplah manusia biasa dengan segala kompleksitas dan permasalahannya. Dan gw kaget aja dia menutup rapat semua itu sendiri sampe setua ini. Yah sama lah seperti kita kita, dipaksa ortu untuk milih suatu jurusan, dibanding-bandingin, dan sebagainya. 
Yang gw kasian ke dia adalah… kenapa pada akhirnya dia harus menceritakan hal hal itu ke gw!

    Gw? yang secara emosional meledak ledak dan berapi api. Gw yang main bismillah, maju, serbu, serang, terjang ketika menghadapi sesuatu. Gw yang nekad dan gak sabaran. Tapi jangan lupa, gw juga cengeng. Kalau bocah, gw tipe yang kalo berantem, langsung gebug dan hajar tapi sambil nangis dan ingusan. Kalo kucing, gw tentunya representasi dari kucing oren yang gede ngeong ngeong sebelum ambil ancang-ancang nyakar. 
Wah! Gw jadi meragukan kompetensi gw sebagai teman dia. Mungkin dia gak butuh gw yang hebring ini. Atau apakah gw “guna” ya dengan personality gw yang rupanya bertolak belakang parah dengan Mas kucing abu? Duh kalian pernah liat dong kucing abu sama kucing oyen, segimana bedanya mereka? Naaaaah… itu! Kira kira begitu. 


    Dan cerita atau imajinasi kita semua tentang romansa ala ala FTV ludes semua kayak martabak anget! Gw kemudian “reset” semua hal, pertanyaan gw ubah semua “Eh, kamu gak apa kan temenan sama aku?” 


    Gw suka sekali… sukaaaaa sekali kucing abu ini. Beberapa kali gw bilang ke dia, kalau kami masih bocah dan dia tinggal di Leuwiliang dahulu kala (plis cek google maps ya guys letak tempat ini)… dia pasti akan gw ajak main tiap sore. Gw ajak buat bantuin gw nangkepin ayam kalau udah mau magrib (mmmm… masih agak bully sih, tapi nangkepin ayam pas sore itu sebuah kegiatan yang fun dan hits untuk anak leuwiliang di era itu). Gw tidak sembarang memilih orang loh untuk menangkap ayam-ayam gw, ayam gw butuh dekapan lembut saat ditangkap dan dimasukin ke kandang ufufuufufufufu. Hanya orang terpilih dan kredibelnyang boleh megang ayam peliharaan gw. 


    intinya, Mas Kucing abu ini baik… baik sekali. Tapi gw butuh waktu menerka nerka apa yang ada dipikirannya. Gw suka sekali Mas kucing abu, tapi gw takut juga klo nowel buntutnya dia bakal nyakar gak ya? Ah masa ada kucing sejinak itu, gak mungkin dong.

    duh mas kucing abu….

    gw merasa gw tuh udah paling busuk masalah berteman dengan manusia, nah mas kucing abu ini lebih parah dari gw. Pokoknya banyak! Banyak hal yang bikin gw terkaget kaget. Yang bikin gw, “HAH?”
    “HAH?“
    “gimana…gimana?“

    Terus gw akan lebih bawel dan bilang “Duuuuuh kita udah terlalu tua untuk belajar how to socialize. Masa hal seremeh itu aja gak aware sih” Geram juga… jangan2 dia berteman dengan gw karena orang lain lama lama shock juga dengan sifat-sifat ajaib di balik ketenangan Mas kucing abu. Gw tidak bisa cerita detil, tapi yang pasti… erghhhh pengen nyubit!

    Tapi, seperti dia bisa menerima semua keajaiban gw yang super absurd ini. Mungkin gw harus mencoba. Lebih sabar.

    ini belum apa apa loh. Gw, gw baru belajar open up dengan seseorang, dan gw baru belajar melihat cowok open up ke gw. Udah kaget, bengong, terbelalak, penuh gejolak adrenalin, pusing. Gila! Berumah tangga pasti lebih edan edan lagi ya.

    mungkin proses mengenal seseorang itu adalah proses belajar seumur hidup…

    klo kalian penasaran dengan Mas kucing abu, sama kok… gw juga. Gak janji ya kami bisa bareng terus. Tapi biarkan gw jadi teman Mas kucing abu. Supaya kami jadi kucing komplek yang akur dan gak saling cakar atau bikin berisik sampe dibanjur air seember sama tetangga yang galak.

    fiuh… uji kesabaran ini…..

  • “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
     
    kalau tahu himbauan itu berasal dari hadist, dalam bayangan saya seharusnya orang-orang di negara Muslim gak sulit untuk diminta diam di rumah dan tidak mudik terlebih dahulu.
     
    Fun fact: Rupanya masyarakat Jepang lebih aware dalam “menerapkan hadist” ini. Setidaknya ini yang saya lihat di Tsukuba.
     

    beberapa minggu terakhir, kasus Covid19 di Tsukuba meningkat cukup cepat. Sampai saat ini, setidaknya ada 7 orang yang terserang di Tsukuba. 5 orang sekeluarga, 1 orang guru dansa dari Italia, 1 orang yang bekerja di Tokyo. Pemkot Tsukuba langsung mengeluarkan imbauan untuk kami yang tinggal di Tsukuba agar tidak bepergian keluar Tsukuba dan yang tinggal di luar Tsukuba untuk tinggal di rumah hingga 2 minggu ke depan alasannya:

    1. Kita tidak tahu seberapa luas virus ini sudah menyebar di Tsukuba,
    2. Kita perlu khawatir jika ada yang commute dari Tokyo dan sekitarnya menuju Tsukuba malah akan menambah kasus baru.

     
    Pemkot tidak melakukan lockdown, masih hanya imbauan. Tapi beberapa minggu ini, semua presiden di setiap research center langsung mengeluarkan SK tentang “karantina wilayah.” Tentunya “japanese style” jadi diperlembut dengan “Imbauan untuk tidak berpergian” (suatu yang gak akan mempan kalau di pake di Indonesia). Dan imbauan itu dikirim bisa 3x sehari ke e-mail kami masing-masing. Kenyang-kenyang deh baca si imbauan itu. Saya yang bahasa Jepang level kore-kore aja sampai mulai hapal kanji-kanji yang dipake apa!
    Mantap bukan!

    photo6334697361825180143
    Ada yang boso Inggris juga sih, tapi langsung capek bacanya…. ada puluhan lembar wejangan dari Pemkot dsb

    //embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    semua pegawai langsung dibuat sibuk dengan uji coba sistem online dsb.
    Tes koneksi berkali-kali (sampai bosen dan garing).
    tes koneksi ini bener-bener bikin kering loh, karena banyak peneliti yang sudah sepuh juga kan. Walhasil mereka masih gaptek, dan kadang jadi terlalu zoom mukanya…..dsb
    Belum lagi di rumah mereka ada pet ada anak-anak yang masih liburan, jadi kadang “rame” karena pada gak ngeh mute suara mereka.
    Banyak lah suka dukanya. Kami yang biasanya peneliti tulen tiba-tiba disuruh cobain macem-macam peranti remote meeting kan heboh juga. Jadi belajar bareng sama sekretaris dan teman-teman yang lain.Sensei saya lebih heboh lagi. Perkuliahan mulai awal april, dan tiba-tiba semua perkuliahan Beliau HARUS dilakukan secara online! Beliau tinggal di Tsukuba, dan kampus di Tokyo. Inget rulenya? Dari Tsukuba gak boleh keluar!Walhasil harus nyiapin materi kuliah online.
    Sudah sip sistemnya….

    Eh~~~~ banyak mahasiswa baru yang perlu self-isolate selama 2 minggu karena banyak yang baru pulang jalan-jalan selama spring break.  Akhirnya harus bikin sistem kuliah online-nya lebih mantap lagi agar bisa diakses banyak orang dari banyak tempat. Itu pun masih ada drama karena banyak mahasiswa baru yang gak punya wifi di kosan-nya m(T^T)m kalau pake kuota hp kan mahaaaal cin. Akhirnya kelas offline juga dibikin tapi tata ruangnya.

    Kasian juga liat para sensei heboh ngecekin sistem kuliah online satu-satu m(T^T)m
    dan please gengs, jurusan ekonomi… banyak persamaan sama kurva yang harus diturunin satu-satu.
    Tapi kayaknya para sensei mulai enjoy dengan “mainan” baru mereka :’D yo wis lah.

    Dan kerennya, dengan segala suka duka, semuanya nurut dan oke-oke aja demi kebaikan bersama.

     Mulai hari ini, hingga dua pekan ke depan, yang tinggal di luar tsukuba akan kerja di rumah.
    KRL tsukuba express pun refund tiket langganan untuk para pejuang kereta ini.
    Gak ada yang ngeyel “Loh kan belum lockdown.” semuanya lebih bilang “Yah… daripada kita menyebarkan virus kemana-mana dan gak tau. Virus kan gak keliatan.”
    Masker dan hand sanitizer memang sulit, tapi makanan dsb tetap ada dan masih harga normal. Farmers market agak sepi memang karena para petani (yang pada sepuh) diminta untuk gak keluar rumah terlebih dahulu. Tapi semua patuh dengan mahzab yang sama “Khawatir tertular atau menularkan orang.”
    Kadang jadi mikir, apa ekspektasi Rasulullah apa semua umat Islam bakal kayak orang Jepang, gak akan ngedablek kalau dikasih arahan atau saran?
    Subhanallah, Rasul pasti baik banget sih jadi gak negative thinking…. tapi kayaknya untuk orang Indonesia, mmmm…mmm….mmm…. harus pake cara polisi India yang maeh gebug pake rotan apa ya? Hmmmm… gimana menurut kalian?

    Gimana nih masyarakat yang katanya religius?  Atau memang butuh rotan untuk “efek kejut” 😀

     
  •  “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Kadang-kadang harus ikutan jahat gitu gak sih biar survive?”

    Emon memang orang yang keliahatan super ceria dan gampang ketawa…
    yang orang gak tau, seorang Emon juga gampang panik. Gampang banget.. terutama ketika kepikiran tentang Mama dan adik. Mereka adalah dua orang yang paling berharga bagi gw saat ini. Kalau tiba-tiba gw khawatir, gw bisa langsung moody dan panik. Dan saat ini, media sosial berhasil membangunkan kembali kepanikan gw yang udah hibernasi sejak gw belajar musik, dan itu semua gara-gara the most viral topic of the year: COVID-19.

    Gw sesungguhnya tidak terlalu panik awalnya, karena di Jepang… walau kasusnya besar dan gw sudah mengira akan besaaaaaar banget karena ketika wabah mendera Cina, banyak turis Cina berlibur sesaat ke Jepang. Itupun karena Jepang dianggap lebih bersih, aman, stabil, dan steril (well… dan juga deket kan). Lalu BOOM! wabah merebak di negeri Sakura. Jangan kira di negara maju dan se-well prepared kayak Jepang gak ada panic buying! Ada dongs!

    Masker hilang dari pasaran, tissue toilet entah mengapa makin menipis stoknya, wowowowowowo~ cukup kaget juga. Pertemuan publik di-cancel, sekolah diliburkan, banyak plan hancur berantakan. Bahkan airport pun sepi. Pesawat menuju Jepang kayak kapalnya kapten Flying Dutchman di Spongebob. Hati gw pun ambyar!

    photo6296462270171032090
    Narita Airport sunyi….

     

    Namun setidaknya, teman-teman dan supervisor gw baik. Kami saling mengecek satu sama lain. Dan mungkin karena gw tinggal di kota yang mayoritas penduduknya peneliti, tidak ada kepanikan berarti…. “Hmmm, ini kan virus ya, pasti sudah nyebar kemana-mana ya, wong kecil gitu kok. Sekarang kita yang harus tanggung jawab menjaga diri dan orang-orang terdekat kita. Ja! Ganbarimashou!”

    Sungguh, awalnya gw tidak panik. Gw memang jadi lebih waspada, tapi hidup berjalan menyenangkan… seperti biasanya.

    Sampai kemudian, wabah menyebar di Indonesia. Lengkap dengan pemerintah yang terlihat sekali gelagapan mengambil keputusan dengan cepat. Jangan lupa! Semakin gurih dengan “topping” beberapa paket netijen bawel di media sosial, beberapa media yang masih hobi bikin judul clickbait,  dan beberapa paket masyarakat yang emmmm…gimana bilangnya ya… norak? alay? sungguh harus ada padanan kata yang lebih dari itu semua.

    Yak! Sebuah kombinasi yang luar biasa…
    luar biasa membuat panik!

    Gimana gak?

    Panic buying dimana-mana, harga semakin merangkak naik, belum lagi jumlah penderita yang masih saja simpang siur.
    Eh masih sempat pula ada kisah “FTV” dimana seorang pasien positif yang terjangkit virus masih sempat “kabur” dari ruang isolasi.
    Butuh waktu untuk mencerna informasi-informasi yang berseliweran dan bisa membuat siapapun yang baca jadi GILA!

    Lalu, gw inget Mama dan adik di rumah. Oh bagaimana kabar mereka kala gw kembali ke Jepang.
    Gw cek harga barang-barang macam masker, hand sanitizer, dsb. Gak lupa gw pun cek harga-harga bahan sembako.
    It doesn’t make sense… harganya mulai sama bahkan lebih mahal dibandingkan di Jepang. “No, my family will be not okay under this situation.”
    Padahal, kalau gw boleh jujur, Jepang pun tengah resesi. Gw juga merasa uang gw lebih cepat habis akhir-akhir ini. Tapi… kalau kemudian harga di Indonesia bisa hampir sama bahkan lebih tinggi dari di Jepang? Geng… sori buat bilang hal ini….ini jelas-jelas:  Harga barang di Indonesia melonjak jadi MAHAL BANGET!

    Gw bertekad, apapun yang terjadi… semahal apapun barang yang harus dibeli… kalau memang itu buat Mama, gw jabanin deh.

    Gw pun kemudian tanya baik-baik ke Mama.

    Me:   Ma, liat deh… orang-orang kan pada panic buying tuh, nanti harga makin mahal loh. Yakin gak mau beli sembako, sama masker, dsb? Beneran nih?

    Mom: Mmmm… gak usah kak. Mama kan gak kemana-mana. Eh paling check up ke RS, tapi kayaknya sekarang lagi gak kondusif ya. Serem ah.

    Me: Iya, jangan ke RS dulu sementara. Tapi jaga makan baik-baik ya.

    Mom: Iya… obat rajin diminum, sama mama puasa tiap minggu. Makannya juga sekarang udah pinter abis ditongkrongin terus sama Kiki

    Me: Ma, beneran nih, gak butuh printilan-printilan yang pada lagi dibeli orang-orang? Klo perlu, beli nih walau mahal juga.

    Mom: Gak usah kak, kita punya cukup kok stok buat kita aja. Jangan beli lebih dari yang kita butuhin, ikut-ikut panik, nanti harganya makin naik.

    Me: Ya makanya… sebelum makin naik lagi.

    Mom: Eh kok gitu. Kalau buat kita aja harga segini udah berat banget, yang ekonominya lebih sulit dari kita pasti nangis-nangis. Duh kasian, udah kita jangan ikut-ikutan dzhalim. Gak tega ah!

    Me: Ya udah, masker deh… butuh gak?

    Mom: Kan Kiki udah beli sabun cuci tangan, yang penting rajin cuci tangan kan? Toh kita juga wudhu sebelum shalat. Insha Allah aman. Kita juga jarang keluar rumah kalau gak penting-penting banget. Udah jangan nambah-nambahin deh, kasian nanti yang butuh masker beneran. Nanti yang sakitnya parah banget gimana? Terus yang mobilitasnya padet gimana? Mereka-mereka itu tuh yang lebih butuh dari kita. Jangan suka ambil hal yang bukan hak kita ah. Mama sama Kiki anteng di rumah main sama kucing kok, gak kemana-mana.

    Dan dari semua hal brengsek yang terjadi sepanjang 2020 serta komen-komen netijen yang terkadang terlalu ajaib, perkataan Mama seperti siraman air zamzam di komplek perumahan di tengah klaster neraka jahannam! Adem banget!

    Tapi… itu membuat gw sedih karena pada akhirnya gw bilang, “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Yeeee… emang semuanya kayak Mama? Sori la yaw”

    Lalu adik gw yang memang mulutnya berbisa itu pun angkat bicara, “Loh iya, memang Kak… memang! Kalau ada apa-apa, misal Mama nih yang kena si virus, pertama-tama… orang akan jauhin kita, rumah kita akan dipasang police line. Kakak akan dihujat, kok ya anak perempuan egois, sekolah lama-lama di LN, bawa virus. Kiki juga, anak cowok gak guna… gak bisa jaga Mamanya. Kita tamat kok kalau ada apa-apa. It’s predictable”

    YES! THAT’S THE POINT! Jadi gak salah dong kita berpikir strategis sebelum kita dijahatin orang. Sedih banget kalau nanti kita sakit eh masih di bully dan dikucilin. God! Sudah jatuh dilindes traktor.

    Tapi Kak, kalau orang lain kehilangan akal sehat bukan berarti kita ikut-ikutan kan? Gak gitu cara mainnya. Kita harus kuat, harus sehat, harus bertahan, agar kita bisa buktikan bahwa jadi orang baik pun masih bisa loh bertahan hidup di planet ini. Action speaks more than words, Man!

    Gw jadi tau sih kenapa gw agak cemen dan cengeng kalau baca dan liat hal-hal yang penuh kebencian di dunia nyata dan dunia mayaa. Karena di dalam rumah, keluarga gw gak punya hal-hal jahat sedikit pun di benak mereka. Terlalu naif, tapi… bersama mereka gw merasa sangat nyaman.
    Dan emang… mereka adalah oksigen gw. Oksigen saat “polutan-polutan” menyerbu benak gw.

    Saat gw menulis ini, gw baru baca berita…
    Ada masa suatu aksi berdoa agar India diserang virus Korona…
    Ada berita tentang ibu-ibu sosialita yang pamer belanjaannya (yang jelas2 membeli banyak sekali sembako dari supermarket).
    Ada status seorang netizen yang bilang “Inilah tanda mengapa wanita harus menggunakan cadar/burqa.”
    Ada tablig akbar “Syiah lebih berbahaya dari virus Korona.”
    Ada aneka persepsi”Oh pemerintah lambat luar biasa.”
    Ada yang antipati “Cih, pasti kebijakan ini cuma untuk cari muka.”
    Ada caci maki “Hish, Cina memang cuman menolong negara-negara Syiah dan Kristen… komunis!”
    Masih ada berita “Banyak yang memakai sanitizer di tempat publik untuk isi ulang.”

    In short:
    Bahkan di saat yang genting, rupanya ada… rupanya banyak… yang masih sempat membenci.

    Padahal ini wabah karena virus loh, makhluk super kweciiiiil yang bisa menyerang siapa saja.
    Apapun agama kita…
    Apapun suku kita…
    dan karena tidak mudah dideteksi, maka siapapun bisa terserang. Bisa saja keluarga kita.
    Bisa saja diri kita sendiri.
    Dan jika kita yang dapat “jackpot” tersebut, tentu kita ingin mendapat banyak dukungan. Ingin mendapat banyak pertolongan. DARI SIAPAPUN.
    Secara logika, bukankah seharusnya kita peduli untuk melakukan hal serupa pada sesama? Saling dukung… saling tenggang rasa… tepa salira kalau kata buku PPKN jaman SD dulu.

    Gw pernah membaca, saat ketika manusia paling jujur adalah ketika mereka ada di titik kritis, ketika mereka menduga bahwa hari akhirnya semakin dekat.
    Jika wabah ini adalah titik kritis, dan jika gw merujuk kutipan tersebut…. maka apakah watak kita sebenarnya memang egois? Memang mau menang sendiri?

    Ah, ya… gw pernah bilang, secara default manusia emang egois, oleh karena itu kalau di angkot yang hampir penuh,  kita yang baru naik pasti disuruh duduk di paling pojok yang paling panas.
    Kita egois. Oke! Mari kita telan kenyataan ini.
    Tapi yang tidak disangka-sangka, kita kurang bisa me-manage sifat egois itu. Jadi yaaaa begitu saja~
    Jangan-jangan sejak era Pithecanthropus Erectus ?

    Kalau saja, kalau…. semua orang bisa seperti Mama, bisa dengan ringan berkata, “… jangan ambil hal yang bukan hak kita.”
    Mungkin dunia akan sedikit lebih tenteram.

    Eits… Mom, wait! You are wrong, in this cruel world… people think in another direction “Grab any kind of opportunity! No matter what!”

    Oh iya lupa! Konon katanya, sebelum hari akhir…. yang tertinggal memang orang-orang yang jahat 🙂 Aha! kini kita punya penjelasannya!

    Mungkin memang banyak orang yang lebih memilih untuk survive hingga akhir apapun taruhannya. COVID19 memang mengguncang dunia, merubah banyak hal, kecuali satu: sifat serakah manusia.

    Sedih…
    Sayangnya, kenyataannya begitu.
    Is it time to farewell with solidarity and humanity? Gak tau, gw sih masih punya harapan (dan doa) untuk itu. Kalau kamu?

     

  • “Marissa, you don’t have any idea about how much I adore your mom. She treats everyone nicely no matter who are they? Where they come from? She is a very sweet person, that’s it.”

    Setidaknya itu perkataan Mamas Smiley saat tante emon complain tentang Mama yang kadang terlalu baik.
    Tentang betapa marahnya saya karena merasa Mama terlalu cepat menghabiskan uang BUKAN untuk dirinya, tapi seringkali untuk orang lain.
    Untuk asisten rumah tangga kami yang anaknya dipenjara karena kepergok menjual ganja.
    Untuk tukang sayur langganan kami yang gagal panen.
    Untuk tukang kebun kami yang sudah terlalu tua.
    Untuk kebunnya yang mulai berantakan
    Untuk kucing kami yang memang lidahnya terlatih untuk makanan dengan label harga yang lebih tinggi.

    Untuk orang lain!!!!

    Dan seringkali lupa untuk dirinya sendiri. Mama saya itu sakit loh, pemirsa. Mama saya tidak bisa berjalan dengan baik seperti dahulu karena stroke yang menyerang mama 3x! dan juga diabetesnya!
    Kadang… saya merasa “Udah deh, Ma. Gak usah mikirin yang laen-laen lagi. Yang penting Mama sehat.”
    Tapi Mama tetap Mama.

    Kalian yang mengenal saya, pasti tahu betul betapa logis kepala saya dan betapa meletup-letupnya emosi saya. Bahkan kepada Mama. Saya akui, bahkan jika dibandingkan dengan adik saya (yang memang pria idaman para tante saking sweetnya sama Mama), saya cukup keras dan sering ngomel ke Mama.

    “She needs to think about herself before anyone else!!!!!” jawab saya pada Smiley. Tentu! Saya merasa saya benar.

    Mama… Selalu begitu.
    Hatinya baik tanpa Beliau sadari.

    ============

    Ketika ayah meninggal dunia, adik saya masih kecil. Seperti yang  seringkali kita ketahui, lidak tetangga terkadang lebih tajam dari pisau jagal kurban. Banyak yang bilang, “Bu… biasanya, kalau anak hilang sosok bapaknya, suka jadi anak bandel kalau gak bodoh. Itu tuh liat tetangga kita.lalalalalalalalalala.” mungkin pada gak sengaja ya, tapi setelah saya menginjak usia “tante” seperti sekarang, saya membayangkan “Ya Allah, itu pasti sakit banget ya buat Mama. Pasti Mama khawatir banget.”

    Hmmm… setelah dipikir-pikir…..

    Mama layik khawatir, karena dua anaknya: KERAS KEPALA.

    Saya dan adik saya adalah orang-orang yang tidak sungkan mengatakan sesuatu to the point. Beberapa kali Mama kena “tegur” tetangga karena anak-anaknya terkesan “jutek” untuk banyak orang. Padahal? Gak… kami malas basa-basi saja.
    Karena kebetulan SMA saya dan adik saya sama, dan kebetulan kami kebagian “wali kelas” yang sama, Mama saya harus sempat dengan komplain salah satu wali kelas kami.
    “Marissa… ya gitu, tidak bisa berkomunikasi.”
    “Muflih itu tertutup ya, yaaa tidak ada yang spesial… atlet sih.”

    Sungguh, Mama sebenarnya bisa saja marah besar “Kalian!!! APA YANG TERJADI???”
    Well, tentu… kalau perkara akademik, Mama akan ngomel untuk beberapa jam “Kamu itu, kan sudah Mama bilang, belajar!” tapi seingat kami, itu hanya yaaaaaaah… paling lama setengah hari.
    Setelah itu Mama akan tanya “Jadi sebenarnya ada apa sih? Ada yang kamu gak sreg ya?”

    Sebandel-bandelnya kami, kami tidak bisa bohong ke Mama. Mama biasanya tahu kalau ada yang salah dan “beda” pada kami.

    Kadang kami males juga untuk jawab, jadi ya udah lah diem aja.
    Jika itu yang terjadi, Mama akan tanya “Mau makan apa hari ini?” dan setelah itu Mama akan masak atau beli makanan yang kami mau.

    “Habis, anak-anak Mama itu sudah pada gak bisa mikir dan pusing kalau gak makan enak. Ya sama kayak kucing-kucingnya.” Biasanya Mama akan bilang seperti itu.

    ============

    Mama layik khawatir, karena dua anaknya: BEDA 180 DERAJAT!!!

    Teman-teman saya pasti bilang, “Adik lo tuh, ELO tapi versi cowok! Gila persis banget sifatnya!”
    Sifat boleh lah mirip, bagaimanapun saya memonopoli adik saya sejak dia lahir. Sebagai orang yang susah dapat teman, adik saya adalah teman terbaik saya sejak hari pertama dia di dunia.
    Tapi…… minat, bakat, hobi, dan banyak hal lainnya BEDA PARAH!!!

    Adik saya yang tinggi besar punya bakat yang bikin iri hati dan dengki di bidang olah raga, terutama beladiri. Menyebalkan banget, karena bagi dia… olahraga itu dikedipin juga dia bisa.
    Saya? Dengar kata “Jogging”, baru dengar loh… BARU DENGAR… rasanya sudah encok. I hate any kind of exercise. GW TIDAK SUKA OLAHRAGA. Pencapaian terbesar saya dalam bidang olah raga adalah suka dan paham ketika nonton bulu tangkis. Udah deh, itu paling mentok.

    Saya lebih senang seni, kecuali seni tari, sepertinya untuk bidang seni yang lain… yaaaa bisa ngerti lah. Bukan hal yang terlalu sulit untuk saya belajar seni. Apapun itu.
    Adik saya? Ufufufuufufufufufufuufufufufuufufufufufufufufu…. gak tega sih ngeledekinnya. Nilai seni rupa doski emang tinggi ya pas sekolah dulu, tapi sedikit bocoran aja… itu karena bantuan dari jiwa seni saya yang melimpah ruah. UFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFU (mohon jangan ditiru).

    Saya, sebenci-bencinya dengan suatu mata pelajaran, I will tried my best untuk mempelajari itu. Saya, mungkin tidak pernah jadi yang terbaik, tapi… saya bisa pastikan bukan yang terburuk.
    Adik saya? gak suka sesuatu?… ya dia tinggal :’) Dia betul-betul excellent pada suatu hal dan bener-bener busuk di suatu hal pada saat yang bersamaan.  Dia bisa dapat nilai paling tinggi di suatu mata pelajaran, dan di saat yang sama dapat nilai paling dodols di mata pelajaran lain. Intinya, dia hanya ada di dua titik ekstrim.

    Coba…coba…
    Kalau kalian punya dua ekor anak yang model kami-kami ini gimana rasanya?
    Pasti kalian akan bilang ke saya “Liat tuh adik kamu! Olah raga, biar sehat. Kan makanya kamu gampang gendut!”
    Pasti kalian bisa bilang ke adik saya “Kamu itu gimana? Mbok ya dapat nilai yang paling tinggi di semua mata pelajaran!!!” Lalu menyuruh dia untuk les ke semua tempat yang ada di muka bumi ini.

    Fun fact: Mama TIDAK PERNAH melakukan itu semua pada kami.

    Saya yakin sih, pada awalnya Mama pusing juga karena kok yang dua anaknya tipe nyebelin kayak gini ya. Pasti lah sempat ngomel juga ke kami. Tapi lagi-lagi, paling lama hanya setengah hari. Setelah itu… diplomasi meja makan selalu berhasil.

    Adik saya menolak untuk ikut les di banyak tempat “Gak Ma, pusing kalau terlalu banyak metode belajar.”
    Saya pun mengakui kalau “Ma… kakak tuh gak suka olah raga, kakak sukanya ngegambar, denger musik, nonton…..baca….”

    Ya sudah…

    Mama, tidak pernah membandingkan saya dan adik saya satu sama lain.
    Mama juga tidak pernah membandingkan kami dengan orang lain.

    “Ya gak apa,  karena Mama juga gak suka dibandingkan sama orang lain. Bikin stress tau. Dan Mama percaya Allah pasti punya alasan kalian punya bakat dan hobi masing-masing. Terserah kalian lah, asal jangan lupa shalat.”

    ============
    Kembali lagi pada sifat Mama yang menurut saya “terlalu baik” dan jujur saja… mulai menyebalkan. Untuk menghentikan sifat Mama itu, saya punya ide gila
    “Ma, ke Jepang yuk, bareng Kakak.”

    “….gak deh, Kak.”

    Saya tentu marah, karena tidak sedikit yang berpikir bahwa saya anak durhaka. Mama saya ditinggal lama banget loh! Kalian jangan pikir saya tidak berbusa untuk ajak Mama ke sini ya. Sudah jutaan kali.

    “Duh kenapa sih, Ma!???”
    “Soalnya, ada banyak orang yang mau Mama temani di sini.” kata Mama suatu ketika

    Lalu saya ingat, Mama seringkali me-“rekrut” orang-orang yang “bermasalah” di sekitar kami. Ada yang janda, ada yang anaknya dipenjara, ada petani, ada orang yang sudah sangat tua dan mulai pikun tapi kepala keluarga, dan masih banyak orang lainnya yang sengaja Mama izinkan untuk membantu pekerjaan kami di rumah. Mama juga selalu menyediakan air minum dan makanan kucing di depan rumah supaya kucing liar tidak kelaparan.

    “Kalau tidak ada Mama, kamu yakin orang lain bisa memperlakukan mereka sebaik kita?” begitu kata Mama.

    Saya lalu menyerah. Karena jangan-jangan, di muka bumi ini, mungkin tidak banyak yang setulus Beliau.

    Adik saya pernah bilang, “Kalau kakak mau dapet cowok kayak ayah, mungkin kakak harus sebaik hati Mama sih. Dan itu… susah.”

    ====================

    Sesederhana itu.

    Mama tidak pernah berubah. Semenyebalkan apapun kami, Mama selalu sabar (walau sering over-panik juga dan bikin kami kesal).
    Ketika kami gagal, lalu sedih, lalu ngerasa gak guna…. Mama pasti akan bilang “Pasti ada alasan kenapa Allah kali ini bikin kamu gagal. Pasti ada rencana Allah yang lebih baik dan kita belum tahu aja.”

    Saat dunia runtuh, memiliki Mama yang selalu percaya bahwa kami “BISA” sangat membantu. SANGAT MEMBANTU.

    ====================
    Dulu…. saya tidak merasa apa yang Mama lakukan itupenting. Tapi sekarang, saya berpikir kalau Mama tidak memperlakukan kami seperti itu, mungkin saya tidak akan “smooth” untuk lulus Ph.D hingga postdoc sekarang ini. Jika Mama tidak sebijak itu, mungkin saya sudah gila… mungkin saya sudah kerapkali terobsesi untuk membandingkan pencapaian saya dengan orang lain. Mungkin saya akan kerap ragu apakah keputusan saya yang terbaik.

    Tanpa kebaikan hati Mama, mungkin Allah juga sungkan memberi saya begitu banyak kebahagiaan dan kemudahan.

    Mungkin seluruh pencapaian yang saya dan adik saya dapat, adalah hadiah Tuhan agar Mama senang. Agar Mama, tidak perlu sakit dan masuk rumah sakit lagi.

    Mungkin begitu ya…
    Ya Allah, pastikan jalan hamba dan adik hamba adalah jalan yang terbaik bagi kami, untuk banyak orang, dan pastikan itu membawa kebahagiaan untuk Mama.

    Aamiin.

  • Kali ini blog emonikova, lagi-lagi, melakukan investigasi khusus demi memperjuangkan kekepoan para netizen. Saya berupaya untuk membahas habis metode penulisan untuk disertasi Bapak AA yang beberapa pekan terakhir sempat viral serta mengguncang baik dunia nyata maupun dunia maya.

    Saya dan beberapa teman saya menyepakati bahwa yang kurang dari disertasi Pak AA, setidaknya menurut kami loh ya, adalah minim serta lemahnya proses peer-review dan mungkin saja minim masukan dari para insan akademis lainnya baik yang satu keahlian dengan Beliau maupun diluar ekspertasi Beliau.

    Oleh karena itu, saya Tante Emon, dibantu teman-teman yang lain, dengan sukarela, ikhlas, dan cuma-cuma, akan memberikan beberapa masukan yang mungkin bisa membantu Pak AA untuk merevisi disertasinya. Untuk diperhatikan: Pak AA berjanji bahwa Beliau akan merevisi disertasinya, sehingga yang saya review pada blog ini adalah disertasi Pak AA sebelum revisi serta dibandingkan dengan “Laporan Penelitian Individul Konsep Masadir al-Ahkam (studi komparasi antara pemikiran asy Syafii dan Muhammad Shahrur) yang bisa sempat saya temukan di web: http://eprints.iain-surakarta.ac.id/3609/1/Masadir%20al-Ahkam_LaporanLengkap_16-08-16.pdf untuk  mengecek konsistensi serta kecenderungan penulisan Pak AA. Sekali lagi, tulisan ini saya buat sebagai bentuk kritik sekaligus untuk pembelajar bersama mengenai metode penelitian yang baik dan benar.

    Apakah saya orang terbaik dan terpintar dan terwadaw di muka bumi ini sehingga layik untuk mengomentari karya tulis orang lain? Tentu tidak, sama seperti yang lain… saya pun sudah melalui ratusan purnama untuk merevisi disertasi saya. Jurnal internasional lebih dahsyat lagi, saya sudah kenyang ditolak sana sini :’D saya…. seperti kalian, sama sama masih belajar. Namun sebagai insan akademis, saya punya tanggung jawab untuk berbagi pengalaman dan sudut pandang terkait penulisan akademis sehingga kualitas karya tulis kita semakin baik. Apalagi Pak AA adalah mahasiswa doktoral, dosen pula, alangkah bijaksana jika Beliau lebih Teliti lagi dalam membuat karya tulis sehingga sesuai metode ilmiah. Dan untuk UIN pun begitu, kan salah satu universitas yang cukup ternama di tanah air, mau dooooong karya ilmiah civitas academicanya lebih baik lagi. Pembaca blog emonikova juga pasti pernah tau, ketika skripsi saya dijiplak habis professor dari Algeria, itu pun karena minimnya proses peer review dan plagiarism check di sana, nah saya tidak mau ini terjadi di negara kita.

    Lagi lagi dan lagi, saya tidak mau terseret UU ITE, karena tiket PP Jepang-Indonesia itu mahaaaaaal! Saya tegaskan bahwa opini ini tidak bermaksud memojokan siapapun. Dan saya, hanya akan menyinggung hal hal yang menyangkut teknis metode penelitian. Klo hal substantifnya sih waduuuuh, bukan bidang saya kawan! Makanya, saya hanya membahas disertasi ini dan kaitannya terhadap metode penulisan ilmiah

     1. Judul

    Saya dengar sih judulnya memang akan diganti ya. Tapi mari kita lihat sebenarnya blunder apa yang terjadi pada “judul” disertasi ini?

    KONSEP MILK AL-YAMĪN MUḤAMMAD SYAḤRŪR SEBAGAI KEABSAHAN HUBUNGAN SEKSUAL NON MARITAL

    Saya nyaris meragukan kemampuan bahasa Indonesia saya karena saya benar-benar tidak tahu subjek, predikat, dan objek pada penelitian ini. Nyaris saya mengira yamin dan shahrour adalah dua orang yang berbeda!

    Saya meratapi kebodohan saya ketika teman saya akhirnya buka bicara “Mon, itu yg yamin-yamin konsepnya. Bukan nama orang apalagi nama makanan.” Owalaaaaaah… andaikan yamin yg dimaksud adalah mie yamin yg  ditambah kriuk pangsit, rakyat Indonesia tentu tidak akan marah, namun gempar karena lapar.

    Perkara SPOK ini rupanya bisa mengecoh kewarasan para pembaca. Saya yakin, saya tidak sendiri. Sehingga semua langsung meloncat pada “objek” penelitian ini yaitu ” keabsahan hubungan seksual non marital” ya wajar! Wong ndak ngerti subjek dan predikat sebelumnya apa. Jika saja kakek saya ditunjukan judul ini di pusaranya, saya khawatir Beliau minta izin pada Allah untuk bangkit sejenak karena begitu marah dengan ambiguitas pada judul tersebut.

    Mungkin Pak AA juga fans berat Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama?” Hingga meyakini pula “Apalah arti sebuah judul?”

    Eits! Berarti dong!

    Karena tidak semua orang punya waktu untuk mengkaji karya tulis yg ratusan halaman. Maka impresi pertama adalah JUDUL! Judul adalah identitas, maka judul haruslah jelas. Apalagi menulis di Indonesia, dan orang Indonesia cenderung hanya membaca judul saja.

    1. Tujuan Penelitian

    sejatinya tujuan penelitian haruslah jelas dan terarah. Nah, saya mencoba memahami tujuan penelitian Pak AA pada disertasi Beliau.

    Pada abstrak tertulis MENEMUKAN TEORI BARU!
    IMG_0097//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    siapa tak terkejut! Konteks menemukan teori baru sesungguhnya adalah hal yang sangat serius dan WOW dalam dunia akademis. Sungguh, jika suatu penelitian bisa menelurkan teori baru, maka penulisnya mungkin sudah layik untuk menerima undangan untuk ngopi ngopi dengan calon penerima nobel.

    Bukan menganggap remeh, tapi saya bertanya-tanya “Masa sih?”

    Lalu saya pun scrolling menuju rumusan permasalahan, tidak ada sama sekali kalimat yang mengutarakan akan membuat teori baru, namun hanya sekadar yaaaaah mereview dan menelaah pemikiran Pak Shahrour saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
    IMG_0098//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Mungkin literasi saya yang minim atau apa, tapi saya cukup jengah melihat rumusan tujuan penelitian ini. Penulis rasa-rasanya hardcore fans dari Pak Mohammad Shahrour, yang kita semua di Indonesia banyak yang awam mengenai tokoh tsb (dan pas liat sosmednya, doski juga gak hits-hits banget gimanaaaaa gitu), mengapa kita…. makhluk di muka bumi ini perlu menelaah pemikiran Shahrour tanpa ada pembanding dengan tokoh-tokoh lain? Apa unsur kebaruannya? Jika memang ingin melegitimasi hukum baru misalnya, maka permasalahan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang dan pemikiran para tokoh. Entah jika standar penelitian di universitas yang bersangkutan memang “cukup segitu saja” untuk meraih gelar doktor.

    Saya paham, bahwa harus ada unsur “novelty” pada penelitian S3, namun…. ya… ya apa? Kebaruannya apa? mengapa hal itu kemudian krusial?

    Sampai situ saya sudah cukup lelah, dan cukup kecewa. Karena jika judul dan rumusan permasalahan saja perlu dibenahi…. maka pasti perjalanan investigasi ini masih panjaaaaaaaaaaaaang.

    1. Terlalu banyak catatan kaki yang sepertinya, gak perlu perlu banget. 

    Saya memang penasaran betul dan iseng untuk mengkaji…mengapa sebuah penelitian butuh begitu banyak footnotes. pasti kompleksitasnya melebihi batas logika kita semua.

    saya turut prihatin karena rupanya, Pak AA sudah gamang bahkan sejak perkara menentukan transliterasi. Tentu saya pahami kegamangannya, saya maafkan kesalahannya, namun sayangnya… saya (dan mungkin banyak orang) tidak peduli perkara transliterasi yang harus dijelaskan panjang lebar.

    IMG_0100//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    IMG_0099//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Background saya adalah ekonomi, sebagaimana yang mungkin beberapa orang tahu… ekonomi itu “nanggung” karena merupakan irisan matematika, statistika, dan ilmu sosial. Siapa tahu kan diluar keilmuan saya, pada beberapa ilmu sosial, footnotes memang boleh-boleh saja bisa lebih panjang dari konteks penelitiannya sendiri. Siapa tahu? Saya merasa tidak kompeten dalam membahas ilmu sosial, sehingga saya mencoba menghubungi kawan yang murni orang sosial. Pertanyaan saya singkat “Apa perlu footnote sampai curhat segala.”

    Jawabannya?
    “Pas gue skripsi sih, Mon. Pembimbing gue bilang secukupnya aja.”
    “Kalau panjang bukannya sekalian aja cantumkan sebagai sumber terus simpen aja di dapus ya?”
    “Hah? footnote seinget gue sih secukupnya aja, Mon”

    Jelas sudah, dimanapun itu, aturan footnote rasa2nya seragam.

    Karena saya memang husnudzan, anak yang baik, dan rendah hati…
    Saya kembali optimis, mungkin… mungkin…… penulisan di masa kini berbeda dengan di era saya yang sudah hampir kepala 3 ini. saya pun bertanya pada adik saya yang masih duduk di bangku S1, belum lulus! Tapi udah dapat lah matkul metode penelitian. Komentarnya:
    IMG_0118//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Yes! Saya dan adik saya pernah di SMA yang sama di SMAN 1 Bogor, dan kebetulan kami punya guru bahasa Indonesia yang super fenomenal yang super hebat karena mengecek tugas karya tulis dan PR kami satu persatu (yang kalian tau dong, level anak SMA kan masih sampah ya tugas-tugas kartulnya), dan tiap kami salah, walau hanya koma, kami akan dapat surat cinta “ulangi lagi ya sayang” dan kami WAJIB harus mengulang PR kami dari awal. Dan itu membuat kami ngelotok jasmani rohani perkara dasar penulisan ilmiah. Berbekal pengalaman sejak SMA saja kami sudah bisa meyakini bahwa ada yang ganjil dengan metode penulisan footnote Pak AA. Masa’ penguji Pak AA kalah teliti dengan Ibu Guru saya di SMA? Harusnya lebih mata elang dong, kan penguji calon Doktor 🙂

    Di bidang saya,  footnote sebisa mungkin diminimalisir kecuali untuk info yang singkat… jelas… padat. Misal, untuk konversi mata uang. Pembaca perlu tahu kira-kira 1USD itu berapa ya pada tahun X? Naaaah footnote bisa membantu. Sudah segitu saja, jika ada yang perlu dijelaskan maka jelaskan pada badan manuskrip.

    Selain itu banyak footnote yang sebaiknya ditulis saja pada daftar pustaka. Saya jadi merasa gundah dan gamang, jangan-jangan Pak AA belum mengenal sebuah software luar biasa yang sangat membantu para mahasiswa bernama MENDELEY.

    Maka, teriring rasa hormat kami…. saya melampirkan link untuk mengunduh software mendeley. Bisa pakai end note dan zotero juga sih. Tapi ini yang paling gampang 🙂

    https://www.mendeley.com/download-desktop/Windows/

    monggo monggo dicoba. Tinggal klak klik klak klik, nanti daftar pustaka jadi dengan baik sesuai format yang kita inginkan.  Oh iya! Ada web importer juga loh! Sehingga tidak sulit untuk mengutip website di internet.
    Tidak suka Mendeley? Tidak apa pak, ini loh saya ada softwara lain bernama zotero. Gratis kok… gratis! 🙂

    https://www.zotero.org/

    Iya, sama-sama 🙂 kan kita akademisi, boleh dong saling membantu.

    1. Referensi…..wikipedia? WordPress? Bahkan grup Milis?

    Jadi kalau di Indonesia itu masih boleh cite wikipedia dan wordpress untuk kartul sekelas disertasi? Atau hanya UIN Sunan Kalijaga yang memang punya syarat penulisan ilmiah yang “dinamis” dan “kontemporer.” Waduuuuh! Kenapa saya tidak masuk UIN SuKa saja kalau begitu, setidaknya lebih “enteng” lah perkara format penulisan karya tulis.

    IMG_0103//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    IMG_0105//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Seingat saya, bahkan saat saya S1, pembimbing saya akan marah bueeeesssaaaaaaaaaarrrrr jika tahu saya melakukan hal tersebut. “Emon! Kamu cite wordpress? Carilah pembimbing lain.”

    Skripsi saya memang tidak sempurna, namun saya ingat betul karena pembimbing saya mencoret hampir semua lembaran draft skripsi saya termasuk daftar pustaka. Saya kaget betul karena Beliau cek dapus satu per satu “Mon, ini gak ada kok ditulis? Mon… ini salah dong! Mon, ini tidak valid sumbernya.” Itu untuk karya tulis anak ingusan loh, level S1, kalau doktoral harus lebih mantap terasa dan lebih ilmiah bukan?

    bukankah begitu?
    bukankah begitu?
    bukankah begitu?

    Saya pun sengaja kopipaste beberapa paragraf pada disertasi ybs dan mari kita lihat hasilnya! Anda akan terkesima!

    Kopi….
    Picture1//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Paste ke google….
    Picture2//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Menemukan kalimat yang sama persis…Klik blognya…
    Picture3//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Lihat sumbernya! Sama persis cara penulisannya.
    Picture4//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Cari sumber utama….
    Picture5//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Nah pada kasus sebuah buku ada editor, maka seharusnya sihhhhh…. seharusnyaaaaa kalau mau menuliskan pada daftar pustaka (bukan di footnote ya, karena itu kan udah kopi paste abis -.-)…. maka nama editor harus dicantumkan, plus ISBN karena kodenya ada. ISBN itu penting loh untuk membedakan satu karya dengan yang lain. Dan memudahkan penelitian susulan karena jelas referensi apa yang digunakan. Memang ribet, tapi maksudnya baik kok! Bener deh 🙂

    Entah siapa yang kopi paste, namun sepengetahuan saya…. PUN….PUN….PUN…. mengutip karya orang lain dan dicantumkan sumbernya, maka perlu ada proses parafrase (eh EYD gimana sih, gini kan ya? pokoknya paraphrase. Atau memang tidak ada yang punya bukunya saja :’) )
    Siapa yang kopi paste?
    Duh siapa ya?

    Keduanya sama-sama kopipaste dari bukunya, habis blas! Tapi siapa yang duluan menuliskannya? blog? atau disertasi? rute kopi pastenya seperti apa? buku-blog-disertasi? Atau buku-disertasi-blog?

    Duh sungguh misterius! Saya menyerahkan semuanya kepada kalian 😉

    Eh sampai sini saya terlalu keras dan kejam tidak? Masih kuat? Kalau iya lanjuuuuuuut!

    5. Data dan Metodologi Penelitian? Apa? Bagaimana? Dimana? Arghhhhh~~~
    Saya jadi tertarik mengkaji metode penelitian Beliau. Dan lagi-lagi saya takjub, karena metodenya lebih plot twist dibandingkan kisah De La Cruz pada film Coco!

    Jadi ada sumber primer, sekunder, dan tersier. Okay…. yang primer buku yang ditulis sendiri oleh pak Shahrour. Yang sekunder dan tersier apa? yang ditulis orang lain?
    IMG_0111//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    terus udah gitu aja? Saya butuh penjelasan, namun apa daya saya malah mendapat penjelasan mengenai apa definisi “tokoh” kayaknya itu gak krusial krusial amat untuk audience pembaca disertasi
    IMG_0110//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Memang ini cara dan metode yang benar ya dalam menulis kajian pemikiran seseorang? Saya gak tau loh, karena penelitian saya lebih bersifat kuantitatif. Tapi emang begitu? Ah kok rasanya tidak begitu ya.

    Pembaca yang terhormat, izinkan tante emon menunjukan Anda bagaimana menulis “review paper” dengan lebih baik 🙂 memang gak sepenuhnya sama dengan cara menulis disertasi kualitatif, tapi metodologinya akan serupa karena terkait dengan “mereview” pemikiran/ penelitian pihak lain serta membandingkan beberapa pustaka.

    • Untuk beberapa jurnal yang memang benar-benar membahas literatur review, maka penulis WAJIB mencantumkan berapa jurnal/ literatur yang mereka teliti? Keyword yang digunakan? range tahun dari kapan hingga kapan? Bagaimana metode pemilahan literatur?

    IMG_0112//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    • karena tante emon juga pernah menulis review paper. Pun jika ingin mereview hasil penelitian orang lain atau diri sendiri (misal, pada suatu paper secara idealnya sih hasilnya a,b,c,d, tapi akan ada kendalanya nih di dunia nyata, sedangkan jurnal sebelumnya terlalu teknis. nah ini perlu di review),  kita perlu mencantumkan paper apa yang kita review beserta metode yang digunakan pada paper yang kita review. Ini contoh paper saya yang ‘elek sih. Tapi yaaaa kira-kira begini. Intinya kita harus paparkan kenapa kita mereview? menelaah? penelitian apa yang ditelaah? Sumbernya mana? ini penting untuk memastikan pembaca tidak hilang arah dan tujuan dan menyamakan persepsi serta memperkaya pengetahuan pembaca. Jadi pembaca punya informasi yang lengkap: lagi ngomongin apa? dan mengapa perlu diomongin? pada kasus disertasi Pak AA, kita tidak tahu karya Pak Shahrour yang Beliau kaji itu apa? dimana? Sumber jurnalnya ada tidak? Kalau rupanya pemikiran Pak Shahrour rupanya OPINI PRIBADI ybs dan tidak bersifat ilmiah, yaaaaaaaa buat apa dibahas! Buang-buang waktu dan kertas.

    Picture6

    Bikin review paper itu sulit loh, dan biasanya KALAU melalui proses peer review, maka reviewer akan mengatakan “berikan pembanding terkait teori ini.” atau meminta literatur yang baaaaaaaaanyyyyyyyaaaaaaaaaak sekali.  Sedangkan yang saya temukan, pada disertasi pak AA, literatur pada daftar pustaka pun minim sekali 🙁 jadi gimana dong? Mau dibilang review pemikiran saja sepertinya masih butuh lebih banyak literatur, daftar pustakanya bahkan lebih sedikit dibandingkan skripsi S1 saya :'(

    Lebih jauh lagi.

    Saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan pada rumusah masalah ini, bahkan setelah baca habis disertasi ini, kenapa tiba-tiba milk al yamin itu jadi hubungan antara pria wanita. Hah?

    Saya sudah 5 rit loh bulak balik membaca disertasi ini? Heran? Tidak lagi, karena metodenya pun tidak jelas. Jadi wajar saja. Kita semua, termasuk saya, sudah diajak tersesat sejak awal…. mungkin sekarang sudah sampai di desa penari.

    6. Kritik pada shahrour? Ada… tapiii

    Tapi hanya 17 halaman! Dari total disertasi 421 halaman! saya mencatat hanya ada dari halaman 280-297

    Karena saya tahu kalian malas menghitung, saya berinisiatif menggunakan metode teknologi bernama KALKULATOR untuk menghitung 17/421 itu berapa persen.
    IMG_0091//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Hanya sekitar 4%!

    Bukan kata saya, namun kata kalkulator. Jika Anda tidak dapat menerima fakta ini, silakan gunakan kalkulator Anda masing masing, bandingkan dengan sempoa, serta Ms. Excel.

    Ya pantaaaaaasssss saaaaajaaaaaaaa masyaaaaaraaaakat hebooooooooh! Dari 400++ halaman, judul fenomenal, kritik yang harusnya jadi inti penelitian hanya 4%-nya saja. Setidaknya dari disertasi versi awal. Semoga setelah direvisi jadi lebih baik ya.

    Saya sih ada saran, ini kalau mau didengar loh ya. Kan ceritanya mengkaji pemikiran. Maka alangkah baiknya membahas dari sisi psikologis, antropologis, sosiologis, kultural, hingga ekonomi. Dan itu bisa panjaaaaaaaang. Masalahnya, apakah pak AA punya kerendahan hati untuk berguru pada ahli ahli bidang bidang tsb? Akan makan waktu, yes! Tapi karya yang dihasilkan akan maknyus! Dan mengedukasi masyarakat. Lulus doang sih gak susah susah amat, Pak. Tapi integritas? Nah ini yang perlu ditingkatkan lagi. Bertanya dan berguru pada ahli ahli di bidang yang berbeda dengan kita kan bukan berarti kita bodoh atau hina, tapi itu karena ilmu Allah itu luaaaaaaaaaaaas. Dunia tidak selebar buku-buku pak shahrour. Iya gak?

    7.  Istilah istilah yang wadidaw, serta penerjemahan yang aduhai

    Karena saya punya jam terbang untuk kasus friendzone.
    Saya jadi tergeltik juga untuk membaca lalu sedikit mengomentari penerjaman dan pemahaman istilah istilah yang wadaaaaw!

    Misalnya, nikah friend….(baru tau kan kalian semua ada nikah friend? ada rupanya istilah ini)
    Apa salahnya kalau berteman terus nikah? Duh apa sih?
    Wajar saya bingung karena istilah yang lain terdapat istilah bahasa arabnya, selain yang satu ini.
    Rupanya nikah friend ini ceritanya, friendzone terus mereka wik wik wik karena sama sama suka. Mari kawan-kawan pejuang friendzone, kita rapatkan shaf mengkaji penulisan yang ngawur ini.
    IMG_0116//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Karena cara penulisan yang astagfirullah, penulis jadi terkesan “Ini loh jalan dan solusi untuk kalian semua wahai budak friendzone yang dibuta cinta.”
    IMG_0115//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Saya kaget ketika semakin scroll ke bawah saya menemukan tulisan ini
    IMG_0114//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Jadi nikah friend juga biar gak inses?
    Ini pemikiran pak shahrour? Pemikiran pak Sadawi? Atau pemikiran pak AA sendiri?
    Apakah Pak AA juga pernah terjebak friendzone?
    Apakah Pak AA pernah di ghosting gebetan?

    Apa sih Pak? Induksi logika pemikiran Bapak itu bagaimana?

    Entahlah,  namun pasti ada alasan hingga nikah friend ini secara ajaib muncul dan perlu dibahas, dan perlu dipandang sebagai solusi.

    8. Jadi kesimpulannya….

    Iya jadi kesimpulannya, pak sharour ini teorinya subjektif! Bias!
    Tapi ide bagus loh buat dicoba. INI APA BANGET SIH? Pemikiran filosofis apa yang terlewat oleh saya?

    Ini saya yang memang bodoh, tidak sampai ilmunya, atau bagaimana?

    IMG_0117//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

     

    Saya sudah terlalu lelah hingga tidak mampu berkata kata lagi.

    9. Baiklah… tapi Bapak pasti sudah terbitkan jurnal dong? Mungkin kalau manuskripnya lebih pendek saya bisa lebih paham. Iya dong! Eh tapi….

    Tapi kok tidak ketemu?
    Saya membandingkan disertasi yag belum direvisi serta Laporan Penelitian Individual yang bisa saya dapatkan di internet, dan menemukan bahwa Beliau mengaku sudah publish banyak sekali paper. Kita mau baca dong ya 🙂

    Maka saya lacak satu per satu.
    IMG_0072//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
    Picture7//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Sayangnya saya tidak bisa menemukan tulisan Beliau.

    Archive terawal jurnal yang diakui sebagai tempat menulis pak AA sekitar tahun 2016 dan 2008. Sedangkan Pak AA mengaku menulis di jurnal-jurnal itu sejak tahun 2000-an.
    Apa saya salah jurnal? Atau jangan2 hanya submit saja tapi belum publish?
    Picture9//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
    Picture10//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
    Picture11//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Saya tidak tahu. Tapi ini adalah hasil penelusuran saya.

    Saya harap saya yang salah, saya yang terlewat dan kurang menggali google, dsb sehingga tidak menemukan tulisan Pak AA sama sekali.
    Namun jika memang tidak ada….
    Bukan Pak AA yang perlu meminta maaf, namun seluruh pihak terkait, termasuk promotor hingga pihak universitas sendiri.
    Sangat tidak fair meloloskan disertasi yang bahkan belum teruji melalui tahap peer review.
    Tahap peer review adalah tahap paling melelahkan, stress, menguras tenaga, namun itulah saat penulis belajar dan memahami apa sih kekurangan dari studi tersebut.

    Lagi-lagi ini masalah kredibilitas.
    Lulus S3 saja sih, gak susah susah banget…. tapi menjaga kredibilitas dan tanggung jawab dari gelar yang kelak didapat, itu amanah dari Tuhan. Katanya ber-Tuhan. Orang yang ber-Tuhan harusnya tidak mengelabui manusia lain, dengan cara apapun…termasuk mengaku sudah menulis jurnal ilmiah namun tidak terbukti.

    Andai saja, andai…. setidaknya ada prosiding yang dibuat oleh Pak AA terkait dengan disertasinya. Mungkin saya masih bisa menerima. Namun, itu pun tidak saya temukan.

    Saya kemudian mencoba mencari berdasarkan judul. Ada yang sedikit mirip, tapi sayangnya bukan karya Beliau 🙁
    Picture12//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    10. Dan apakah kita perlu mencantumkan Karya Tulis yang BELUM/ TIDAK dipublikasikan

    ini pun mengagetkan. Untuk apa mencantumkan karya ilmiah yang tidak dipublikasikan. Memang, pada CV… biasanya kita boleh mencantumkan beberapa karya yang masih dalam rencana/ masih dalam proses. Namun biasanya hanya 1-3 saja. Dan biasanya berkaitan erat dengan publikasi yang sudah diterbitkan. Itu pun bukan sebagai poin untuk lulus S3, namun hanya untuk menunjukan seseorang sedang dalam proyek penelitian dan dalam waktu dekat akan segera submit. Biasanya kalau dipresentasikan  bisa ditulis “to be submitted.”

    Namun yang ada di list Pak AA, adalah karya sejak tahun 1995! Untuk apa? Untuk menunjukan list soft skill? Atau hanya butuh pengakuan saja.
    IMG_0071//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

     

    Saya mulai geram. Ada persamaan antara Pak AA dan Pak Shahrour idolanya: Sama-sama narsis. Lihat saja twitter Pak Mohammad Shahrour, harus repot mencantumkan DOKTOR pada akun twitternya. Padahal kalau karya Anda okesip sih, Pak, Anda mau cantumin gelar atau gak… orang akan paham dan tau.
    Saya kecewa!
    Patah hati!
    Saya tonton betul klarifikasi dari seluruh pihak yang bersangkutan. Mengatakan bahwa seluruh metode ilmiah sudah dilalui. Namun mana buktinya? Mana? Mana wahai UIN Sunan Kalijaga??? Woi mana woi??? UIN itu Universitas Islam Negeri. Dalam Islam, kita harus bisa mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatan kita. Nah mana?

    Saya sedih, meratapi kemampuan penyusunan karya ilmiah di dalam negeri.

    Jika banyak dari kita yang tidak tahu konsep Milk al-Yamin atau tidak tahu siapa Mohammad Shahrour, mungkin wajar karena topik terkait hal ini sangat spesifik (lagian mendingan gak tau sih). Tapi, kalau sampai tidak ada yang mengkritisi metode ilmiah serta cara penulisan…? Ini baru menyedihkan karena hal ini sangat basic, dan sudah seharusnya dipelajari oleh mahasiswa setidaknya sejak S1. Jika tidak ada yang menyadari hal ini, maka… apakah kualitas penelitian ilmiah kita masih begitu rendahnya?

    Saya tentu tidak bermasuksud memojokan siapapun. Saya pun tahu bahwa Pak AA berjanji akan merevisi disertasinya, namun saya harap revisi juga mencakup perbaikan metode penelitian serta pertanggungjawaban secara ilmiah terkait publikasi yang sudah ditelurkan. Publik berhak untuk mengetahui setiap komponen dari penelitian tersebut.

    Semoga kita semua juga bisa belajar dari hal ini.

    Namun, jika nanti Pak AA tidak mampu memperbaiki serta mempertanggungjawabkan seluruh komponen yang ia tulis pada disertasinya. Maka… tidak ada pertanyaan lain untuk Beliau, selain satu: Apakah Bapak memang sudah pantas meraih gelar doktoral?

    Hingga tulisan ini saya akhiri, saya berharap Pak AA bisa melakukan revisi secara bijaksana dan cerdas.

    Aamiin~~~~~

     

     

  • Seberapa panik kalian kalau tiba-tiba ada orang yang memesan kamar hotel di sebuah hotel bintang 5, di Batam dan singapura,dengan pemandangan laut! Dengan akun kalian?
    satu kamar 5 juta rupiah/ orang.

    Bukan hanya 1 hari tapi 3 hari. Itupun minta kasur tambahan :’D Pokoknya udah gw itung kira-kira ada lah 25 juta ++
    InkedIMG_9898_LI//embedr.flickr.com/assets/client-code.jsInkedIMG_9892_LI//embedr.flickr.com/assets/client-code.jsIMG_9896//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Mahasiswa misqueen pasti khawatir dan gila aja, dari mana uang 25 juta?

    Ini terjadi ketika minggu lalu akun ex****a gw dipakai seseorang.
    (Gw samarkan ya, karena mereka sudah melakukan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan gw. Gw khawatir kalau gak gw samarkan nanti gw dikira pencemaran nama baik :’D nanti gak bisa maen blog lagi. Tulisan ini untuk membuat kalian lebih berhati-hati aja, karena kasus pencurian identitas itu ADA… banget)

    Tapi uniknya, semua kartu kredit dan debit ADA di tangan gw dan udah jarang banget pakai karena selama di Jepang gw merasa lebih aman menggunakan e-money.
    Tapi tetep dong, 25 juta siapa tak gusar. Bisa umroh, Kawan!
    Untuk keamanan,gw putuskan blokir semua kartu di Indonesia. Iya dong, namanya jaga2!
    Itupun setelah sungkem ke Mama dan adik. Akun gw di Indonesia biasanya gw pakai kalau ingin kirim sesuatu untuk Mama atau adik, jadi agak sedih juga hal ini terjadi.
    Maaf ya, Ma.

    Dan untuk case jepang, jauh lebih mudah karena semua transaksi tercatat lebih “real-time”, terutama untuk kartu kredit.
    Uniknya lagi: tidak ada transaksi yang mencurigakan.

    Ada yang gak beres. Tapi satu yang pasti, orang ini pakai akun Ex****a  gw, but whose identity? whose cards?.

    Lemes banget, karena tidak ada gambaran apa sih yang sebenarnya terjadi.
    Dan gilanya, saat kejadian itu terjadi… gw tuh lagi final presentation! Dan seminggu kemudian ada final exam. Pucet merona gak tuh kalo kalian jadi gw?

    Gw kontak Ex****a  yang YA ALLAH SUSAH BANGET CARI KONTAKNYA, terutama untuk Ex****a .co.id! Akhirnya ketemu dan cuman kontak ke US -.-
    Untung ada Skype! Saya pun bergerilya sejak 1 Agustus siang dan kalian mau tau gak jawaban CS-nya?
    “Oh you just need to change the password!”

    AING GE NYAHO! hadeuh… putus asa, saya telepon si hotel bintang 5 yang dituju si pelaku.
    Mereka pun stuck, karena metode pembayaran, no telepon, dsb cuman tercantum “Ex****a ”
    Saya pun bertanya, bisa gak saya reach out si pelaku yang mungkin lagi asik ngadem melihat indahnya pantai?
    Saya tahu pasti akan gagal karena kebijakan privacy hotel, jadi bisa legowo pas dibilang “maaf.”

    Tapi 3 tahun menempuh PhD menempa gw menjadi orang yang gak gampang nyerah.

    Gw pajang aja complain gw di twitter, dan mention Ex****a .
    Rupanya ini jauh LEBIH AMPUH.
    Gw jelaskan lagi masalah gw, tapi pada suatu titik, seorang CS bilang (secara halus) kalo gw udah kebanyakan complainnya -,-
    Ya gimana, ente pernah gambling membayangkan bakal ilang uang 25 juta? atau paling gak, gw yang dituduh maling CC orang. Iya toh?

    Pagi tanggal 2 Agustus, gw akhirnya ditelepon oleh CS Ex****a , dan kali ini mbaknya baiiiiiik banget.
    Jadi gw bisa lebih tenang dan gak misuh-misuh.
    Dan setelah 1 hari berjuang, akhirnya gw berhasil dapat data digit terakhir kartu kredit yang si penipu gunakan.
    the news is: Ada 11 kartu kredit berbeda yang digunakan, dan GAK ADA KARTU GW SAMA SEKALI.
    InkedIMG_9893_LI//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Ini menjawab semua pertanyaan kenapa gak ada tagihan aneh di akun gw. Tapi kan namanya debt collector kalau nagih kan gak mikir-mikir ya.
    Jadi gw tetep khawatir, karena Mama gw kan post-stroke… pasti takut banget kalo tiba-tiba ada debt collector yang seringkali kasar dan gak mau tau dateng “Anak Ibu harus membayar sekian rupiah!”

    Misi gw yang awalnya mau ngecek keamaan akun dan tentu KEUANGAN gw (ini penting dong, 25 juta and still counting guys!)
    berubah jadi: Mari bantu Ex****a  nangkep nih maling. Mumpung di Singapura masih subuh, mereka pasti masih boboks.

    Gw minta agar masalah gw ini di kasih ke bagian fraud dan juga dikomunikasikan dengan pihak berwajib di Singapura.
    Klo perlu ditangkep, tangkep aja deh… soalnya ini udah masuk ranah pidana. Iya dong! Kalian juga pasti setuju lah sama gw.
    Mereka setuju dan mengiyakan. Gw pun bilang, gw ini orangnya keras kepala, klo gw gak liat ada upaya untuk nangkep si pelaku, gw bisa nekad dan bisa urus semuanya sampe dapet. Wallahu’alam gw akan kemana, tapi udah sering baca komen reviewer dan revisi thesis, udah gak takut apa2 lagi.
    Gw gak minta orangnya minta maaf, cuman silakan enjoy ocean view dari jeruji besi 🙂
    11 kartu kredit gaes! Entah punya siapa…
    Mereka pasti orang yang gak tau apa-apa.
    Dan kasian ex****a juga toh, siapapun yang kartu kreditnya dicatut pasti akan complain dan gak mau bayar.
    25 juta ++ cuman dari gw doang, mungkin ada emon emon lainnya. Yah ruginya ex****a bisa ratusan juta lah.
    Kurang baik apa gw sampe ngingetin mereka. Makanya gw sebenarnya greget banget sama CS pada tanggal 1 Agustus yang dodols banget.
    Untung akhirnya pas tanggal 2, Mbaknya baik dan helpful banget.

    Akhirnya, pada hari yang sama gw dapet info kalau reservasi yang tersisa di cancel oleh pihak ex****a.
    Dan rupanya memang sudah disampaikan ke pihak Transaction processing yang sepengalaman gw sih juga bagian yang ngecek masalah fraud.
    Ini alasan pembatalan order.

    Dear Ex****a.co.id Customer,

    Your Ex****a.co.id purchase 7459566392925 has been cancelled due to one or more of the following reasons:
    • We were unable to authenticate the credit card.
    • We were unable to authenticate the card holder.
    • The purchase was declined by the credit card company.
    • Account history.
     Please reply to this e-mail if you think there may be a mistake. We are happy to work with you to rectify any discrepancy. Since we have been unable to contact you via the telephone numbers listed in your account, please reply to this e-mail with the telephone number where we can reach you and the best time to call. An Ex****a Transaction Processing Representative will contact you.
     Sincerely,

    Hadeuuuuh… naha teu ti kamari.

    Anyway, terima kasih banyak untuk CS Ex****a yang akhirnya serius menanggapi komplain konsumen. Maaf ya karena gw kontak terus menerus -.- Mungkin lain kali, penanganan kasus segaswat ini harus lebih cepat dan gak bertele-tele ya. Selain mereka tahan sih dengerin konsumen cerewet kayak gw.

    Sejauh ini gak ada hal mencurigakan lagi :’)

    Oh iya! Sebelum aku ex****a gw ke-hack, gw menyadari kalau email gw di serbu spam yang ada kali 100/jam.
    Nah, kayaknya sih supaya si maling bisa “mengelabui” gw supaya gak ngeh ada email reservasi.
    Selain itu, akun internet banking gw juga gak bisa login karena selalu ada tulisan “Ada upaya untuk masuk ke akun Anda.”
    sampe akhirnya gw 3x salah password.

    Asem!

    Jadi sebenernya udah ada gejala2 yang ada muncul cuman kita gak ngeh
    dan gw kan seminar yang gengs! jadi gak sempet lah curiga-curigaan gitu.

    • Cek e-mail dan seluruh akun kalian. Curiga itu penting kalau memang kalian ngerasa ada hal yang mencurigakan.
      Kalau ada akun yang udah kalian gak mau pake lagi, tutup dan hapus aja untuk menghindari dipake sama orang yang tidak berwenang.
    • Jangan menyerah!; kontak CS itu bisa susah banget soalnya mungkin mereka mikir “Yang penting uang masuk, punya siapa… bodo amat!” memang sangat mengecewakan. Tapi demi uang dan integritas sih, sampe ujung dunia juga gw kejar. Hei! Ini hak konsumen! Jadi bener deh jangan nyerah!
    • Langsung cek ke pihak bank, dan kalau mau aman ya mau gak mau blokir aja semua kartu2 kita.
      Repot? Yes! Tapi daripada ilang 25 jeti plus plus, mending repot -.-
    • Kontak CS google, sampaikan kalau kalian emang ngerasa ada hal yang aneh di akun gmail kalian.
      Tentunya kalian juga harus sigap untuk ganti password dan nambah sekuriti akun dengan 2-step- verification.
      Repot tapi aman!
      Google emang tim paling yahud di muka dunia deh, mereka respon loh complain receh gw. Dan mereka bilang mereka akan cek knp tiba2 ada hal kayak gitu. Entah gimana caranya, tapi mereka mendeteksi kalau akun gw mendaftar banyaaaaak banget milist di beberapa hari terakhir.
      Dan bener loh, dalam waktu kurang dari 24 jam, aktivitas di e-mail gw kembali seperti semula.
    • Kadang biar lebih “cepet” kita diminta beberapa web untuk save account dan info CC kita.
      Mulai dari sekarang DON’T DO THAT! Gak apa lah lama dan ribet transaksi daripada akun kita diretas.
    • Sementara, jangan banyak2 transaksi dengan menggunakan kartu selama di Indonesia.Kalau ada cash, cash aja lah.
      Gw mungkin gak akan bilang kayak gini di Jepang, tapi gw rasa kejahatan siber di tanah air lagi on peak, jadi gw sarankan sementara minimalkan transaksi yang bikin kita ngeluarin kartu2 kita.
      Oh iya! Untuk kasus ini pun, yang ke “hack” kayaknya ex****a Indonesia. padahal gw cuman pake ex****a jp atau ex****a.com. Dengan apa yang terjadi sama gw, gw yakin ada sesuatu yang terjadi di Indonesia.
    • Gw juga saran untuk cek profile kredit kita di OJK. Tadinya gw mau cuek beybeh aja, cuman setelah ada kasus ini… semua orang bisa aja jadi korban.
      Kalian mungkin ngerasa gak transaksi apapun, tapi bisa aja tiba-tiba harus bayar tagihan jutaan dan klo mangkir malah digebug debt-collector Indonesia yang jujur aja kebanyakan tidak punya tata krama -.-
      Kalo jauh, mungkin bisa bawa rekening koran dan lapor ke bank.
    • * ganti password secara rutin 🙂

    EMOOOOOON~~~~~~ ribeeeeeeet banget!
    Iya, tapi lo mau uang, berlian, dan barang tambang yang sudah susah payah kalian gali siang malam aman kan?
    Mungkin ribet dikit gpp.

    Dan jangan ragu untuk bicarakan semunya pada pihak yang bersangkutan. Alhamdulillah, untuk kasus ini akhirnya dapat CS Ex****a yang helpful banget, pihak hotel juga support banget dan ngasih saran-saran yang membangun. Dan Bank… maafkan tante emon yang selalu ngomel di awal :’D soalnya tante ada jauh di rantau dan duh bank  di Indonesia itu comelnya gak tahan deh. Gw gak tau ya kebijakan perbankan di Indonesia gimana. Tapi di Jepang, klo mau blokir sih telepon aja pihak CS, sebut alamat e-mail dan nomer hp lalu selesai -.- less than 5 minutes semua kelar.

    Well, mungkin karena nomer hp di sini prabayar semua ya. Tapi gak ada tuh ditanya nama ibu kandung, alamat rumah, nomer kartu, dsb yang jujur aja klo bagi gw sih ampe itu pertanyaan kelar, yang gasak atm udah beres makan penyet ayam sama es kelapa :’D
    But thank you juga untuk bank karena banyak membantu juga walau kenal omel2 dikit :’) maaf ya.

    Yo wis, gitu aja….
    Buat kalian, mulai sekarang jaga-jaga dan lebih hati-hati ya. Jangan sembarangan nyimpen data pribadi kalian di dunia maya!

    Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!!!!!!

  • Dan perdebatan hari ini berkisar tentang  paslon mana yang paling oke…
    Siapa yang paling hits dan berprestasi…
    Siapa yang paling hebat? Siapa yang paling benar? Siapa yang paling segalanya?

    Well…

    Kadang saya merasa bahwa kita lupa, lupa hal terpenting dalam hidup kita…. secara fair dan rendah hati mengakui bahwa kita tidak sempurna. Akan selalu ada orang yang lebih baik dari kita dalam suatu hal, dan sebaliknya akan ada pula yang lebih kurang dari kita dalam suatu hal.
    Intinya, tidak perlu terlalu menepuk dada… dan tidak perlu juga terlalu mengagung-agungkan orang lain. Setidaknya itu menurut saya.

    Mungkin saya yang kolot, dan Mama saya selalu bilang “Nah kamu itu ya, Kak… kalau orang gak kenal pasti bilang kamu jutek. Yang deket sama kamu cuman binatang, anak kecil, orang tua, atau yaaa teman-teman yang entah terlalu sabar atau terlanjur basah teman sama kamu. Lainnya? Konflik! Konflik! Konflik!”

    Saya mengira saya terlalu emosional dan temperamental, lalu berusaha mencari cara untuk jadi lebih baik dan penyabar sedikit saja. Sudahlah saya tempuh jalan musik, yang sayangnya dosisnya hanya bertahan beberapa jam.

    Harus ada obat yang lebih canggih nih. Duh apa ya!?

    Hingga akhirnya, secara tak sengaja salah satu teman baik saya bilang “Eh, gue mau nari…. lo bantu foto-foto ya! Nari di panti jompo nih gw.”

    Karena saya sih senang-senang aja bantu foto-foto dan liat tempat baru, ya saya iyakan. Siapa tahu kan merontokan keangkuhan hati, menjernihkan pikiran yang butek.

    Berbekal tripod dan kamera seadanya (karena teman saya bilang pakai kamera dia saja), saya melaju ke TKP. Di tengah perjalanan, teman saya baru bilang “Eh salah deng, gw nari di depan teman-teman berkebutuhan khusus dan keluarganya.”
    Dalam hati “Kok ya jauh bangeeeeet bedanya.” Agak gusar, karena jangan-jangan salah tempat juga, mana saya tinggal jauh di planet lain, waduuuuh…. nyaris saya berpikir kalau koto yang 180 cm menimpa manusia bisa menyebabkan cedera seberapa parah ya. Tapi untungnya, tempat tetap sama. Wis… fotografer sih gak ada urusan siapapun audience-nya dong 😀

    ***

    Tibalah saya di panti anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Pertama kali ke panti di Jepang, langsung berasa anak kampung “Ya Allah ini tempat gede banget!”
    Sebagai anak yang introvert parah, setelah melangkah ke dalam, tentu dengan mengucapkan bismillah dan pakai kaki kanan…. saya masuk dan seperti pengunjung lainnya, nunggu di lobi.
    Jangan lupa, di pojokan, dan jauh dari orang-orang.

    Saya tahu bahwa teman saya dan para penari lainnya pasti sedang rempong dengan kostum dan alat make-upnya. Gosh! Sori geng, kalau main musik sih yang penting tuning alat musik dan gak salah ambil alat musik orang. Gak bisa goyang-goyang banyak, karena takut hapalan note tumpah dari otak.

    Cepot yang membuat saya bersosialisasi

    Seperti biasa, dimanapun saya berada, saya pasti di pojok ruangan.
    Eh tapi dasar, karena saya mudah sekali terdistraksi… ada wayang golek “cepot” yang menarik perhatian.
    Saya samperin lah, ada juga gamelan kecil disekitarnya… dan secara otomatis saya mainkan karena saya masih ingat lagu yang pernah saya mainkan kala SD dulu.

    Gara-gara cepot dan miniatur gamelan, beberapa anak kemudian merubungi saya. Mereka senyum, tepuk tangan, dan mengajak bersalaman.
    Ya ampun ramah banget….
    Mereka mengajak saya bicara, sayangnya saya tidak bisa paham. Pengen nangis sih sebenarnya, karena rasanya dosa banget loh ada orang yang tulus ngajak kita ngobrol tapi kita gak ngerti. Saya yang biasanya bodo amat dengan skill bahasa jepang saya, saat itu memaki diri sendiri.

    Seorang anak kemudian lari ke gurunya, dan gurunya kemudian menyapa saya….
    “Oh ingin lihat tari Indonesia juga ya?”
    “Iya, saya janjian sama teman saya.”
    “Oh gitu, ya… ya… ya… tunggu saja ya, belum mulai.”

    Beberapa anak kemudian menunjuk-nunjuk sebuah ruangan dan saya hanya mendengar itu sebagai ceracau yang tidak jelas. Duh apa maksudnya sih, Dek 🙁
    Barulah beberapa menit setelah itu, teman saya keluar dari ruangan tersebut, mencari temannya ini…. dia pasti khawatir temannya ini salah belok kanan atau kiri seperti yang terjadi di Shinjuku.
    Barulah kemudian saya paham! Anak tadi ingin menunjukan bahwa teman saya ada di ruangan itu!
    Sediiiiiiiiihhhhh bangeeeeeeeeeet……. banget banget banget…. karena rasanya kok jahat banget gak paham apa yang anak tadi bilang. Maaf ya, Dek.

    Mulailah gw bekerja sesuai SOP fotografer lainnya….
    pasang tripod!
    Dan ini adalah acara pasang tripod dan pasang kamera terusuh yang pernah saya alami….
    Karena banyak anak yang kemudian datang, dan mereka minta dipeluk….
    Dalam hati, “WHAT! DEK! BENERAN? Oh come in!” tapi saya loh, saya yang bagi sebagian orang bisa menatap dengan tatapan membunuh.
    Beberapa kali tripod oleng, agak deg-deg-an, bukan karena tripod tapi karena kamera yang dipasang adalah kamera mirrorless kesayangan teman saya. Karena dia dokter hewan yang biasa mengembala sapi berton-ton, kalau dia marah kan, nyawa juga ya….
    Namun apa daya, saya pun luluh lantak ketika bersama anak-anak yang saya bisa rasakan tulus luar biasa. Yang saya bisa rasa ingin bilang “Let’s be friend.” Tulus sekali, tanpa ada pikiran macam-macam.
    Mereka mengajak bersalaman….
    Berusaha keras memperkenalkan diri…
    Segala hal yang membuat saya tertohok sendiri, kok saya tidak bisa sebaik mereka ya?

    Bahkan kemudian, ada seorang nenek penderita alzheimer yang kemudian ingin di dekat saya. Mas-mas pendamping Beliau bilang “Neneknya mau di sini gak apa ya?”
    Ya ampun Maaaaaas…. gak apa-apa dong! Pake ijin segala.
    Sambil pegang tripod, saya melihat si nenek yang senantiasa senyum ketika melihat saya. Kaki dan tangannya berusaha sebisa mungkin mengitu irama musik. Terus jadi kangen Nenek…. :'(

    Audience nih, tapi foto sengaja saya blemish gitu ya, untuk menghargai privasi mereka 🙂

    Mereka benar-benar menghargai pertunjukan. Berbeda dengan saya yang memang suka “julid”, “Hwarakadah! Apa tuh? Aduuuh salah deh pasti itu gerakannya!” Padahal saya juga gak bisa nari. Mirip supporter bulu tangkis yang teriak-teriak tapi smash aja tak mampu (well… ini saya juga sebenarnya hahahahhaha).

    Saya senang mereka antusias ketika dibilang akan diajari menari Indonesia sedikit.
    Image and video hosting by TinyPic

    Antusias banget! Kalau saya sih…. pasti beralasan “Ya ampun… cabe deh! Encok ah encok.”
    Duh, Emon! Anda sungguh…. sungguh grumpy! ahahahahhah

    Pulangnya…
    Semua penari dikasih kenang-kenangan dong, biasalah japanese style. Karena saya pendatang gelap, saya gak ngarep lah.
    Eh dapeeeeet jugaaaaaaaa! Kalian mau liat dong?
    Tadaaaaaaaa!!!

    Lucu kaaaan ! Mereka bikin sendiri loh

    Jadi para penghuni panti ini rupanya diajari untuk membuat kerajian sendiri, salah satunya membuat gerabah pisin kecil-kecil ini. Mereka juga diajari membuat kue, melukis (dan mereka jago banget sih ngegambarnya. Paraaaaaah…. bagi saya yang lumayan paham lukisan aja mengakui kok bagus banget), dan hasilnya kemudian dijual dan uangnya untuk mereka. Tadaaa! Jadi mereka bisa memperoleh uang saku juga. Kalau kalian mau lihat karya-karyanya, bisa diintip loh, akun instagram mereka:  https://www.instagram.com/pomamori/
    Dijamin berdecak kagums! (pake “s” karena ceritanya jamak ahahahahahha)

    Kita kadang kasihan melihat para penyandang disabilitas….
    Kasihan melihat orang-orang berkebutuhan khusus…..
    Padahal, mereka tidak perlu dikasihani, mereka perlu diperlakukan secara adil dan setara dengan kita-kita yang mengaku “normal”.
    Mereka butuh diakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu dan berkontribusi.

    Malamnya saya “teror” semua orang yang saya tahu, pokoknya mereka harus denger deh pengalaman saya di hari itu. Walaupun saya yakin, yang di-teror pun gak paham-paham banget kenapa saya tumben bisa se-excited itu! Pokoknya harus heboh!!!!

    =============
    “Mas, tau gak… aku udah dapet harta berharga di Jepang.”
    “Oya? Apa tuh?
    “Ini…. ini dibikin sama adek-adek yang berkebutuhan khusus loh….”
    “Wow… Mashaallah”

    ***
    “Ma… liat dong saya dapet apa?”
    “Apa itu? Dodol Cina menjelang Imlek?”
    “Ih Mama, piring kecil gitu loh Ma…. cantik ya? Yang bikin orang-orang di panti untuk orang-orang berkebutuhan khusus,Ma. Hebat ya mereka.”
    “Hah? Masa sih? Ya ampun…. mereka bakat nih. Bagus ya!”

    =============

    Saya itu tipe orang yang paling sulit impressed dengan seseorang, sulit banget. Well… banyak orang hebat di muka bumi ini, mau bikin saya seterperangah apa sih? Apa? Apa?
    Rupanya pada hari itu, saya berhasil dibuat terperangah.

    Saya kagum habis-habisan, dengan para guru dan perawat di panti tersebut yang sabar dan bisa mengajari mereka dengan sangat baik.
    Saya ingin bertepuk tangan untuk keluarga mereka. Bukan hal yang mudah menerima kenyataan bahwa ada anggota keluarga mereka yang berkebutuhan khusus. Bukan hal yang mudah untuk terus maju dan tidak menyerah. Bukan hal yang mudah menumbuhkan “unconditional love” yang sehebat itu.
    Saya ingin memeluk satu persatu penghuni panti tersebut, ingin bilang “terima kasih”. Terima kasih untuk tidak menyerah, untuk terus berjuang, untuk terus hidup. Untuk menjadi bagian dari planet yang makin menua ini.

    Terima kasih….
    banget!

    Diam-diam saya mengucapkan terima kasih pada Allah, pada Tuhan yang baik sekali memberikan pengalaman seperti ini dalam hidup saya.
    Saya ini keras kepala, kadang…. bahkan sehabis shalat, doa saya lebih pada menantang daripada memohon, terkadang mempertanyakan “policy” yang saya pikir tidak masuk di akal.

    Pada malam itu, saya bisa tersenyum…. “Ya Allah, terima kasih karena telah menjadi yang Mahaadil. Dibalik kekurangan mereka, mereka punya hati yang begitu jernih. Aku mohon, jaga mereka seperti biasa… bahkan jika boleh, jaga mereka lebih dari biasanya.”

    Hari itu, saya tidak memberikan bantuan apa-apa pada siapapun.
    Hari itu, orang-orang luar biasa yang telah membantu saya untuk sadar bahwa kita tidak boleh menyerah, untuk terus bertahan dan melakukan hal terbaik yang kita bisa.

    Terima kasih…
    Lagi
    lagi
    dan lagi….

    =========
    P.S:
    Saya juga sempat mengaku pada teman saya betapa merasa berdosanya saya ketika saya tidak paham apa yang dikatakan anak-anak tsb pada saya

    “Ya ampuuuuun! Gw ngerasa dosa deh! Mereka baik bangeeeet. Tapi gw gak ngerti mereka ngomong apa!!!”
    “Mon… semua pun gak ada yang ngerti! Lo pikir gw ngerti?”
    “Loh, tapi lo bisa jawab pertanyaan mereka.”
    “Ya karena ada ibu gurunya laaaah.”

    Tetap sedih sih, tapi… oh ya sudah, tidak sendirian rupanya :p
    ========

     

     

  • Image and video hosting by TinyPic

    Only if we understand, can we care.
    Only if we care, will we help.
    – Jane Goodall

    Waduh udah 2019 aja, dan kayak masih banyak hal yang belum kekejar.
    Hish, tapi ada hal yang seorang teman katakan pada saya “Kadang kita pun terlalu kejam pada diri kita sendiri, terfokus pada hal-hal jelek dan kegagalan yang kita lakukan. Lupa bahwa kita juga sudah achieve cukup banyak hal.”

    Oh iyakah?
    Iya juga…
    Belajar musik,
    Belajar lebih bijaksana,
    Belajar untuk menjadi peneliti yang lebih teliti dan lebih baik.
    Belajar menghargai banyak orang.

    dalam buku ekonomi makro saya dahulu kala saat masih duduk di S1, ada sebuah komik strip tentang seseorang yang baru membuka toko baru, 99 orang mengatakan betapa baiknya toko yang dia miliki. Lalu ada satu orang yang bilang “jelek” dan itu merusak mood si pemilik toko…. membuat dia merasa bahwa seluruh yang dia lakukan gatot alias gagal total.

    betapa sebuah persepsi negatif bisa merusak segalanya.
    Kalau kata teman saya “Just take away toxic people from your life!”

    Sayangnya, kadang kita punya masalah serius: Kita tidak paham diri kita sendiri. Tidak mengerti apa sih sebenarnya yang terpenting untuk kita. Kita bahkan belum selesai dengan diri kita sendiri.
    Karena tidak mengerti, kita menjadi tidak peduli dengan diri kita sendiri, kita lalu gagal menolong diri kita sendiri.
    Diri sendiri saja tidak selesai, maka jangan harap peduli dan menolong orang lain.

    Tentu, kita perlu mengoreksi diri, menggenjot diri kita untuk jadi lebih baik. Untuk ambisius dalam track yang benar.
    Tapi kita juga perlu menepuk bahu kita sendiri, senyum, lalu bilang “Good job, Me! Terima kasih sudah menjadi diri sendiri, terima kasih untuk belajar mana yang kita suka dan tidak, mana yang kita benci, ayo nanti bisa lebih baik lagi.”

    Tahun 2019 ini mungkin satu lagi kesempatan kita, untuk sibuk merefleksikan diri kita. Menata dan merapikan impian, harapan, bucket list, dsb.
    Satu lagi kesempatan yang diberikan Yang Kuasa untuk melist hal-hal baik apa saja yang sudah kita lakukan, hal apa yang perlu diperbaiki.

    Sibuk bukan?
    Namun, daripada kita sibuk menghujat orang lain atau mendengar hal buruk dari orang yang tidak menyukai kita…. saya rasa, diri kita sendiri layik mendapat hadiah dan penghargaan berupa jiwa yang ingin terus memperbaiki diri, yang kerap ingin menjadi lebih bijaksana. Hanya dengan cara itu, kita bisa membantu diri kita sendiri. Ya! karena kita memang butuh membantu diri kita! Karena bayangan bahkan meninggalkan kita saat gelap.

    Jika kalian membaca ini…
    Terima kasih, karena belum menyerah untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Terima kasih.